Kakak ngak bisa bantu yang lain, dik. Cuma bisa bantu supaya ilmu Hanum bertambah [dengan membaca referensi berbeda]. Jadi orang yang Hanum ajarin juga ilmunya makin banyak. (26 Mei 2015)

Percakapan via WA tersebut mengawali keinginan saya untuk melakukan “random act of kindness” yang sesungguhnya tidak murni random. Saya mengenal sosok Hanum Indria dengan sangat baik: adik kelas di SMP dan SMU. Juga, bergiat di organisasi intra sekolah yang sama: PALASTIG (Pencinta Alam SMUN 3 Banda Aceh). Namun keinginan untuk membantunya yang menurut saya cukup random karena saya bahkan tidak memahami apa yang menjadi passion-nya.

Dalam beberapa kesempatan berbeda dimana kami menghabiskan waktu bersama –dan ini cukup jarang karena saya sering mukim di luar kota, saya hampir selalu melihatnya dengan segelondong benang dan dua pengait. Hanum terlihat sangat terampil memainkan dua pengait tersebut sembari tetap menyimak dan terlibat dalam diskusi kami dengan sepenuh hati. Hal yang mungkin lebih mengagetkan adalah terkait mimpi yang ingin diwujudkan setelah mendapatkan gelar Sarjana Teknik (ST) dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala. Saat semua lulusan PTN ataupun PTS di Aceh berburu mengikuti ujian CPNS, Hanum bahkan bersikap tidak peduli.

10857718_746597695431361_3545501386607765462_n

Bersama dengan dua orang teman, Marwan dan Miswar, ia membangun sebuah shelter yang direncanakan sebagai tempat mengajar keterampilan rajut kepada mereka yang ingin mempelajarinya. Tempatnya tidak jauh, di pekarangan rumahnya di Tungkop, Darussalam, Kecamatan Aceh Besar. Saya pernah mampir dan dengan keterampilan yang terbatas, membantu menghaluskan permukaan bambu yang akan digunakan sebagai pagar. Saya benar-benar terpukau dengan segala ketekunan Hanum dan dua temannya dalam pekerjaan membangun shelter yang dilakukan swadaya.

017

Sembari menunggu bangunan tersebut rampung, Hanum terus menebarkan ilmunya kepada mereka yang tertarik untuk belajar bersama. Percakapan WA pada awal Juni lalu membuktikan keyakinan saya bahwa perempuan ini, seorang Hanum Indria, sungguh memahami apa yang ingin dilakukannya dalam hidup.

Di antara anak sekolah di Kajhu yang sudah bisa merajut, ada 2 orang yang dari Lamno. Salah satunya sudah bisa baca pola. Dengan pendampingan selama 6 bulan, setiap orangnya sudah bisa mengajar masing-masing 2 orang lagi. Target Hanum, minimal 5 orang saja sudah bisa membentuk kelompok mandiri, kemudian bisa mencari ciri khas kelompok dan meluncurkan merek sendiri. Hasilnya bisa dipasarkan di Banda Aceh.

Perempuan ini sungguh luar biasa! Kemuliaan niatnya dan kesungguhannya untuk menekuni apa yang menjadi passion-nya telah menggugah saya. Saya menuliskan kisah ini karena saya ingin menggerakkan alam semesta untuk membantunya, mengingat keterbatasan kedua tangan saya yang mungil ini.

Sejauh ini, saya sudah mengirimkan beberapa buku sebagai referensi untuk Hanum dan juga kelompoknya (ada 11 judul). Saya juga sedang berusaha mendapatkan informasi mengenai lembaga di Provinsi Aceh sana yang bertanggung jawab untuk pendaftaran merek. Hanum adalah perempuan yang cepat belajar, sehingga seandainya ada teman-teman yang ingin berbagi keahlian dan keterampilan dengan Hanum via tutorial online, saya juga mungkin bisa memfasilitasi ini. Or any other thoughts yang sekiranya bisa membuat Hanum memaksimalkan spill over effect dari keahliannya kepada yang lain, silahkan berbagi di kolom komentar.

IMG_2278

Saya percaya pada sebuah sentuhan kecil yang diniatkan dengan penuh kemuliaan dan kerendahan hati akan menjadi sesuatu yang bermakna besar bagi kemanusiaan dan mungkin peradaban

(Semua foto yang digunakan di tulisan ini sudah mendapatkan izin dari yang bersangkutan. Ingin mengetahui lebih jauh mengenai Hanum, silahkan cek Facebooknya di Hanum Indria)