A goal is a dream with deadline – (Source unknown)

Dalam sebuah sesi hang out setelah menjalani ujian skripsi dan revisi untuk mendapatkan gelar S. IP dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UMY, saya dan tiga orang teman memutuskan untuk mampir ke Ballroom Hotel Santika Yogyakarta. Hari itu, 7 Februari 2006, sedang diselenggarakan Holland Education Fair yang dihadiri oleh perwakilan dari Universiteit van Amsterdam, Universiteit Maastricht, University of Groningen, University of Wageningen, Erasmus University dan ITC-Geo-Information Science and Earth Observation. Saya tidak menyadari bahwa ‘keisengan’ untuk mampir ke event ini menjadi defining moment untuk arah masa depan setelah menyelesaikan studi S1.

Saat itu, saya mendapatkan beberapa informasi mengenai studi ke luar negeri –sesuatu yang sudah sering saya dengar namun tidak mengetahui detailnya – seperti:

1)   Ada beasiswa untuk melanjutkan studi S2 dan S3 ke luar negeri yang diberikan kepada non-PNS

2)   Eligibility untuk melamar beasiswa diberikan kepada fresh graduates maupun mid-career professional (mereka yang telah bekerja minimal selama 2-3 tahun setelah lulus S1)

3)   Beberapa beasiswa menerapkan affirmative action misalnya untuk pelamar dari luar Jawa, perempuan, berasal dari daerah konflik atau bekerja untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias pasca tsunami. Hal ini menjadikan kompetisi untuk mendapatkan beasiswa lebih adil bagi kelompok-kelompok tertentu.

Saya memanfaatkan kunjungan tersebut untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, terutama terkait StuNed (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned/stuned) serta program S2 Hubungan Internasional yang ditawarkan oleh Universiteit van Amsterdam (MSc in Political Sciences: International Relations, http://www.uva.nl/en/education/master-s/master-s-programmes/item/international-relations.html?f=international+relations)

dan University of Groningen (Master Degree in International Relations and International Organization, http://www.rug.nl/masters/international-relations-and-international-organization/) Dua universitas lain menawarkan program master yang berbeda namun memiliki aspek hubungan internasional, yakni MA in Globalisation and Development Studies (Universiteit Maastricht) dan MSc in International Development Studies (University of Wageningen).

Berbekal informasi tersebut, saya mulai menyusun arah masa depan dan memberikan tenggat waktu bagi pencapaian-pencapaian pribadi, termasuk deadline untuk mulai berburu beasiswa program studi S2. Setelah wisuda, saya memutuskan untuk mengikuti sebuah pelatihan bertajuk Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) XVII yang diselenggarakan oleh Yayasan SATUNAMA Yogyakarta dengan pendanaan dari Konrad Adenauer Stiftung. Saya berpikir, pelatihan CEFIL akan memperkuat pengetahuan, ketrampilan dan watak kewarganegaraan yang dibutuhkan untuk berkontribusi terhadap “demand for good governance”.  [Untuk testimoni saya mengenai dampak pelatihan CEFIL, silahkan baca https://mirisa.wordpress.com/2013/08/04/civic-education-kontribusinya-terhadap-transparansi-akuntabilitas-dan-voice-of-citizen/] Sebagai seseorang yang memiliki passion terhadap bidang sosial politik, saya menganggap penting untuk mengawal partisipasi dalam penyediaan pelayanan publik yang memiliki integritas. Pelatihan CEFIL, menurut hemat saya, memberikan koridor serta cetak biru bagi niat mulia tersebut.

Selanjutnya, saya memutuskan untuk berkarya di daerah kelahiran, yakni Provinsi Aceh. Saya pulang tanpa kontrak kerja namun berbekal keyakinan “saya tidak akan menganggur lama”. Alhamdulillah, saya diterima bekerja di BRR NAD-Nias sebagai International Stakeholder Relations Officer sejak 9 Juni 2006. Kompleksitas pekerjaan dan tantangan yang luar biasa saya hadapi dengan kegigihan, keteguhan dan optimisme bahwa semuanya akan berakhir indah. Sedari awal saya memahami mengenai status ad-hoc yang melekat di Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. Mandat untuk mengelola rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Sumatera Utara hanya diberikan selama empat tahun: 16 April 2005 hingga 16 April 2009.  Sehingga, saya harus mampu mendesain exit strategy: mau kemana setelah BRR NAD-Nias tutup buku?

Exit strategy yang saya bayangkan adalah sebagai berikut:

1)   Melanjutkan studi S2 di luar negeri dengan beasiswa

2)   Bekerja dengan BRR NAD-Nias hingga berakhirnya mandat untuk memenuhi persyaratan mid-career professional. Komitmen ini bahkan memungkinkan saya untuk memenuhi aspek lain dari persyaratan beasiswa seperti: minimal masa kerja dua tahun di tempat terakhir bekerja serta linearitas latar belakang pendidikan S1, bidang kerja dan program studi master yang akan diambil.

3)   Mengakrabkan diri dengan Bahasa Inggris lisan dan tulisan, sehingga akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan skor TOEFL, thus, mempermudah mencari beasiswa

4)   Bergabung dengan milis beasiswa@yahoogroups.com untuk mengumpulkan informasi mengenai peluang beasiswa

5)   Mengalokasikan waktu untuk melakukan community service. Saya memilih untuk terlibat aktif di Bina Antarbudaya Chapter Banda Aceh dalam proses seleksi maupun sebagai juri dalam seleksi Year Program 2008-2012 sebagai bentuk comunity service. Secara prinsip, saya memiliki kedekatan dengan Bina Antarbudaya – The Indonesian Foundation for Intercultural Learning karena merupakan returnee program AFS ke Swiss pada 2001 lalu.

Akhir 2007, saya mulai melakukan “shopping” terhadap beasiswa-beasiswa yang ditawarkan bahkan memberanikan diri untuk melamar meskipun saya sama sekali tidak berpengalaman dalam menulis essai (Personal Statement, Study Research Objective, Statement of Purpose dan sebagainya). Bagi saya, essai-essai tersebut merupakan “living document” yang terus menerus saya perbaharui, saya kembangkan, dan tulis ulang sehingga mampu “membunyikan” kualitas saya sebagai pelamar. Saya mengakui bahwa Statement of Purpose yang saya kirim untuk aplikasi beasiswa NOHA Mundus – Joint Master’s Degree Program in International Humanitarian Action [http://www.nohanet.org] (essai pertama yang saya tulis, red.) buruk sekali. Sehingga, bisa diprediksi bahwa jawaban yang saya terima adalah DITOLAK.

Namun saya tidak patah arang, saya terus melanjutkan upaya melamar beasiswa (beberapa tidak lagi saya simpan aplikasinya dan email penolakan, sehingga saya tidak terlalu precise dengan kronologinya): British Chevening, Ford Foundation, StuNed 2008, MA in International Relations offered jointly by Jacobs University Bremen and the University of Bremen [http://www.ir-bremen.de/international-relations], serta Asian Peacebuilders Scholarship (Dual Campus Master of Arts in Peace Building) dari UPEACE [http://upeace.org/academic/spec_masters/alp.cfm]

Catatan menarik dari aplikasi-aplikasi ini adalah saya tidak mendapatkan jawaban apapun dari British Chevening. Untuk Ford Foundation, saya hanya mendapatkan informasi dari milis terkait daftar kandidat yang dipanggil wawancara; nama saya tidak tertera disana. Saya melamar StuNed saat putaran aplikasi  untuk pelamar dari luar Jawa, namun ditolak dan disarankan untuk mengikuti putaran aplikasi umum karena mereka tidak menerima sertifikat TOEFL prediction. Well, saya menerima penolakan StuNed namun memutuskan untuk tidak mengikuti saran mereka, better find other scholarship providers who accepts your TOEFL prediction’ score.

Kemudian, saya disarankan untuk melamar beasiswa Fulbright Tsunami Relief Initiative oleh beberapa teman. I did dan merasa beruntung karena saya bahkan tidak kesulitan untuk memenuhi persyaratan seperti IPK minimal; I had encountered this issue since I decided to pursue my undergraduate so no headache at all! [Silahkan baca https://mirisa.wordpress.com/2009/03/07/the-power-of-planning/] Saya melamar sebelum deadline 31 Mei 2008. Sebelumnya, saya benar-benar mengalokasikan waktu untuk mempersiapkan lamaran dan semua dokumen pendukung.

Then, saya terharu karena tidak menyangka bahwa saya akan mendapatkan beasiswa Fulbright di kali pertama melamar. Saya berangkat ke USA pada 31 Mei 2009 untuk memulai pre-academic training selama 9 minggu di Spring International Language Center at the University of Arkansas, Fayetteville. Pada Fall 2009 saya memulai semester pertama di program Master of Arts in Political Science, J. William Fulbright College of Arts and Sciences, University of Arkansas, Fayetteville.

When I finally got my MA degree in Fall 2011, I told my self that indeed, “A goal is a dream with deadline”. Melihat kembali perjalanan hidup saya setelah menyelesaikan kuliah S1 dan mulai memasuki dunia kerja profesional, saya merasa tidak sedikit pun rugi karena telah memberikan tenggat waktu yang ketat bagi pencapaian-pencapaian pribadi serta sangat keras menegakkan disiplin untuk diri sendiri; those are necessary to reach what I aim to achieve in my life. Bermimpi akan banyak hal, serta berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan, harus dibarengi dengan tenggat waktu, thus the whole universe will conspire to help us.

END NOTES

Saya menemukan bahwa dokumen berikut sangat membantu proses finalisasi Study Research Objective dan Personal Statement yang saya lampirkan untuk melamar beasiswa Fulbright Tsunami Relief Initiative How to Write a Successful Statement of Purpose for Graduate Schools