Perjalanan hidup saya dimulai pada 20 Januari 1983, sebagai anak keempat dari enam bersaudara, dari pasangan H. Amir Syarifuddin, Sm. H.K. dan Hj. Sri Hastuti. Saya dibesarkan dalam tradisi Aceh yang sarat dengan religiusitas; membaca Al–Qur’an sehabis maghrib, jadwal belajar agama dengan mendatangkan seorang guru setiap tiga kali dalam seminggu, dan dendang pengantar tidur yang dilagukan mama, yang dalam masyarakat Aceh dikenal sebagai tradisi bertutur “Do Da Idi”, yang berisi puji–pujian terhadap Allah SWT, shalawat kepada Rasulullah SAW, dan petuah seorang ibu kepada anaknya.

Tumbuh dalam religiusitas keacehan, menggiring saya untuk berbuat “sesuatu yang lebih” bagi masyarakat Aceh. Kesadaran tentang menjadi pelayan masyarakat sebagai sebuah cita–cita hidup, terwujud dengan bergabungnya saya sebagai staf termuda sebuah LSM yang bergerak di bidang kajian sosial politik yang berkedudukan di Banda Aceh, akhir 1999.

Bersinergi dengan aktivis pejuang kemanusiaan, terlibat dalam diskusi panjang hingga jauh malam, ikut serta dalam Pelatihan Non Violence yang diselenggarakan oleh Non Violence Internasional dan FARMIDIA (Forum Aksi Reformasi Mahasiswa Islam Daerah Istimewa Aceh) pada Januari 2000 adalah hal–hal yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Posisi sebagai Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan La KASSPIA, LSM tempat saya bekerja, menghadirkan sebuah kesempatan baru, yaitu menjadi pembicara pada “Seminar Sehari Quo Vadis Pendidikan Aceh” pada tanggal 28 Mei 2000.
Sebuah babak baru kembali muncul, dengan terpilihnya saya sebagai AFS Exchange Student Year Program 2000–2001 dengan negara tujuan Swiss. Ini bukanlah sebuah kesempatan yang bisa diperoleh siapa saja, karena sistem seleksi berjenjang yang dilaksanakan AFS Indonesia dalam mengirimkan duta pertukaran budaya, hanya memberi kesempatan kepada duapuluh orang yang berasal dari delapanbelas chapter di seluruh Indonesia. Jumlah yang, bahkan, tidak mencapai lima persen dari keseluruhan peserta yang mendaftar untuk mengikuti seleksi.

Berkenalan dengan budaya Swiss, hidup sebagai “guest daughter” keluarga Gian J. dan Regula Baumann, bersekolah di Kantonsschule am Burggraben St. Gallen, bermain di Kelompok Drum Band Notkerseggler Familien Guggänmusik dan menjadi representasi Indonesia, adalah hal yang saya jalani selama 18 Agustus 2000 hingga 9 Juli 2001.

Kembali ke Indonesia, tidak menjadi anti klimaks dari cita–cita saya. Saya kembali ke La KASSPIA, kembali ke Pencinta Alam SMUN 3 Banda Aceh yang telah membantu saya mewujudkan mimpi, menyelenggarakan Pelatihan Kader Konservasi Bagi Siswa SMU/Sederajat se Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan menggandeng sebuah LSM internasional yang berkedudukan di United Kingdom, Fauna Flora International, yang di Aceh hadir dengan program penyelamatan Gajah Sumatera, sebagai mitra kegiatan.

Saya juga aktif di AFS Chapter Banda Aceh sebagai volunteer. Saya berkecimpung dengan mekanisme seleksi Year Program dan Short Program yang setiap tahun diadakan untuk memberi kesempatan mempelajari kesepahaman antarbudaya bagi siswa/i SMU. Status volunteer AFS terus saya sandang hingga saya melanjutkan studi ke Yogyakarta. Saat ini saya tercatat sebagai mahasiswi tahun ketiga Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alhamdulillah, kesempatan untuk lebih berdedikasi kepada AFS datang pada bulan Maret 2004, ketika saya secara sukarela mengajukan diri sebagai Project Officer Seleksi Year Program 2005 – 2006.

Pada bulan Agustus 2004, saya mendirikan Bungong Society bersama dua orang teman, untuk memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian rakyat Aceh khususnya, dan umat manusia umumnya. Alhamdulillah, event pertama Bungong menuai sukses besar, yakni Festival Film Aceh yang dilaksanakan di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta, pada 30 Oktober hingga 1 November 2004.

Kesempatan untuk aktualisasi diri datang dari seorang teman yang mengajak saya mendirikan sebuah LSM berbasis riset sebagai creative minority yang mengembangkan paradigma baru kemasyarakatan yang menghomati nilai budaya lokal, sadar ekologi, pluralistik, egaliter dan dinamis. LSM bernama Metamorfosis Institute telah mulai dengan capacity building bagi beberapa staf baru bulan April lalu.

Tidak hanya itu, banyak kesempatan yang juga datang, seperti menjadi Sekretaris Jenderal BEM UMY Periode 2004-2005, menjadi Ketua Lab Class Community, menjadi pioneer bagi komunitas debat Bahasa Inggris Fakultas ISIPOL UMY, hingga tawaran membukukan exchange year di Swiss sebagai life strory seorang Mirisa Hasfaria.

Perjalanan hidup yang baru 21 tahun, tidak kemudian membuat saya berbangga hati, bahwa beberapa pencapaian di atas adalah maksimal. Saya terus berusaha mewujudkan mimpi–mimpi saya, dan mempersembahkan yang terbaik untuk kedua orang tua, masyarakat Aceh, nusa dan bangsa, serta masyarakat dunia; mendedikasikan seluruh hidup saya sebagai pelayan masyarakat, dengan secara terus menerus memotivasi diri untuk menjadi yang terbaik.