(For those whose seeking her/his own answer on what is the difference of Father’s Love and Mother’s Love, especially for Febri Rahadi as I initially re-wrote the posting for his birthday)

[Part One: Only for you, MOTHER]

Pengalaman dicintai ibu merupakan bentuk pengalaman pasif. Karena hampir tidak ada sesuatu yang harus dilakukan untuk mendapatkan cintanya -cinta seorang ibu tidak tergantung sesuatu (unconditional)-. Satu-satunya prasyarat untuk mendapatkan cintanya ialah meng-ada -menjadi anak sang ibu-. Cinta ibu adalah kebahagiaan, kedamaian, yang tidak mensyaratkan perjuangan dan tidak menuntut imbalan. Namun ada sisi negatif dari cinta tanpa syarat semacam ini. Cinta ibu memang tidak mengharap balasan, akan tetapi cinta itu juga tidak bisa diperjuangkan, diciptakan atau dikontrol. Ketika cinta ibu ada, maka kehadirannya ibarat berkah; namun apabila cinta ibu tidak ada, maka semua keindahan hidup seakan sirna, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mendapatkannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup sang anak, gagasan cinta beralih dari situasi dicintai menjadi mencintai; menghasilkan cinta. Dan untuk mencapai kematangan cinta ini diperlukan waktu bertahun-tahun. Pada akhirnya, sang anak yang sekarang mungkin telah menginjak dewasa sudah mampu mengatasi egosentrismenya. Pada saat inilah ia mulai mampu menempatkan orang lain tidak lagi sekedar sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan sendiri. Kebutuhan akan orang lain menjadi sama pentingnya dengan kebutuhan terhadap diri sendiri -bahkan dalam banyak kenyataan orang lain menjadi lebih penting ketimbang dirinya. Memberi telah menjadi tindakan yang lebih memuaskan dan lebih menggembirakan ketimbang menerima. Mencintai juga telah menjadi sesuatu yang lebih penting ketimbang dicintai.

Cinta kanak-kanak mengikuti prinsip:

Aku mencintai karena aku dicintai,

Sementara cinta yang matang mengikuti prinsip:

Aku dicintai karena aku mencintai

Cinta yang tidak matang mengatakan:

Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu,

Sementara cinta yang matang mengatakan:

Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu

Sesuatu yang berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan mencintai adalah perkembangan obyek cinta. Bulan-bulan dan tahun-tahun pertama dalam perkembangan seorang anak merupakan masa di mana ia benar-benar terikat dengan ibunya, keterikatan yang sudah dimulai sejak dalam kandungan, pada waktu ibu dan anak masih menyatu meskipun sebenarnya adalah dua.

Kelahiran tak dapat dipungkiri telah mengubah beberapa situasi, meski tidak sebanyak seperti yang terlihat. Karena sang anak yang kini sudah hidup di luar kandungan itu masih tetap tergantung sepenuhnya pada ibunya. Tetapi lama kelamaan ketergantungan tersebut semakin berkurang: sang anak mulai belajar berjalan, berbicara, serta mengarungi dunianya sendiri; hubungannya dengan sang ibu mulai kehilangan sejumlah signifikansi vitalnya dan mulai tergantikan oleh hubungan dengan sang ayah yang kian hari kian penting.

Untuk bisa memahami peralihan hubungan dari ibu ke ayah ini kita mesti memahami perbedaan-perbedaan esensial yang terdapat dalam cinta ibu dan cinta ayah. Pada hakekatnya, cinta ibu tanpa syarat dan tidak tergantung sesuatu. Seorang ibu mencintai seorang bayi yang baru lahir tak lain karena bayi tersebut adalah anaknya, bukan karena sang bayi memenuhi syarat-syarat tertentu atau hidup sesuai dengan harapan-harapan tertentu.

Cinta tak bersyarat seorang ibu seakan memenuhi salah satu kerinduan terdalam yang ada dalam diri semua manusia atau seorang anak. Cinta yang diperoleh karena terpenuhinya “syarat-syarat” tertentu seringkali menyisakan rasa sakit karena kenyataan bahwa dia mungkin dicintai tidak sebagaimana adanya. Dia mungkin dicintai karena dianggap menyenangkan, yang mana ketika sisi menyenangkan itu hilang, relasi yang ada berubah dan digantikan oleh semangat saling memperalat. Maka tidak mengherankan jika seseorang, baik sebagai anak maupun sebagai orang dewasa, mendambakan cinta ibu yang tanpa syarat tersebut. Kebanyakan anak cukup beruntung karena menerima cinta ibu. Tetapi begitu menginjak dewasa, keinginan semacam itu lebih sulit untuk mendapatkan pemenuhannya. Dalam perkembangan yang paling sempurna, hal ini tetap merupakan komponen cinta erotis yang normal. Seringkali cinta diungkapkan dalam bentuk-bentuk religius, namun lebih sering dalam bentuk neurosis.

[Part Two: Only for you, FATHER]

Sulit dipungkiri bahwa karakter hubungan seorang anak dengan sang ayah sangat berbeda dari hubungan anak dengan sang ibu. Jika ibu adalah rumah tempat kita dilahirkan, jika ibu adalah alam, tanah dan lautan, maka ayah sama sekali bukan rumah alamiah tadi. Seorang ayah hanya mempunyai sedikit hubungan dengan anaknya dalam tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak. Seorang ayah masih kalah penting dibandingkan dengan peran ibu di masa awal perkembangan seseorang. Meski seorang ayah tidak mewakili dunia alamiah dari sang anak, bukan berarti ayah tak memiliki peran apa pun. Ayah mewakili kutub lain dari eksistensi manusia; yaitu dunia pikiran, benda-benda, hukum, aturan, disiplin, perjalanan serta petualangan. Ayah adalah sosok yang mengajari sang anak serta menunjukkan jalan menuju penjelajahan dunia.

Peran ayah ini pada gilirannya berkaitan erat dengan perkembangan sosio-ekonomis. Ketika milik pribadi mulai mendapatkan pengakuan, seorang ayah mencari siapa di antara anak-anaknya yang bisa dipercayai untuk mewarisi harta peninggalannya. Dalam hal ini, tentu saja sang ayah akan mencari anak yang dianggapnya sebagai tipe orang yang sukses, anak yang memiliki kesamaan karakter dengannya, anak yang paling dia sukai. Cinta ayah mengandaikan syarat-syarat tertentu. Prinsip cinta seorang ayah adalah: aku mencintaimu karena kamu memenuhi harapan-harapanku, karena kamu mampu menyelesaikan tugas-tugasmu, karena kamu menyerupai aku.

Dalam cinta bersyarat seperti ini, kita menemukan aspek positif dan negatif. Aspek negatifnya adalah kenyataan bahwa cinta ayah harus diperjuangkan, dan cinta itu bisa hilang jika sang anak tidak berlaku seperti yang diharapkan. Dalam hakekat cinta ayah terdapat kenyataan bahwa kepatuhan menjadi semacam kebajikan tertinggi sementara ketakpatuhan serta pembangkangan menjadi dosa terbesar – dan hukumannya adalah penarikan kembali cinta. Namun ada sisi positif yang terkandung dalam cinta bersyarat ini, yaitu membuat orang mau berusaha; saya mesti berusaha untuk mendapatkannya, karena cinta itu tidak berada di luar kuasa saya seperti halnya cinta ibu.

Sikap ibu maupun ayah terhadap anak sama-sama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak itu sendiri. Anak membutuhkan cinta tak bersyarat dan perhatian seorang ibu, baik secara fisik maupun psikis. Sesudah usia enam tahun, anak mulai membutuhkan cinta seorang ayah, wibawa serta bimbingannya. Jika ibu membuat anak merasa aman dalam menjalani kehidupannya, ayah memberikan pendidikan dan bimbingan dalam menghadapi masalah-masalah yang kelak muncul di kehidupannya.

Nurani keibuan mengatakan: “Tidak ada kesalahan atau kejahatan yang dapat melunturkan cintaku kepadamu, atau melenyapkan harapanku atas kehidupan dan kebahagiaanmu.”

Sementara nurani kebapakan mengatakan: “Engkau telah berbuat salah, dan engkau tidak bisa mengelak dari konsekuensi kesalahanmu. Dan yang paling penting, engkau harus mengubah perilakumu jika engkau ingin aku tetap mencintaimu.”

Seorang pribadi yang matang akan mampu membebaskan dirinya dari pengaruh gambaran luar ayah dan ibu untuk kemudian membangun gambaran-gambaran sendiri dalam dirinya. Pribadi yang matang membentuk gambaran-gambaran dalam dirinya bukan dengan cara mengadopsi atau memasukkan ayah dan ibunya ke dalam dirinya, melainkan dengan cara membentuk nurani keibuan di atas kemampuan cinta yang dia miliki serta membentuk nurani kebapakan di atas akal budi dan penilaiannya sendiri.

Selanjutnya, pribadi yang matang akan dapat mencintai dengan kedua jenis nurani tersebut meski pada kenyataannya kedua nurani tersebut terlihat saling bertentangan. Apabila seseorang hanya memelihara nurani kebapakan, maka dia akan menjadi orang yang keras dan kurang manusiawi. Begitu juga jika dia hanya memelihara nurani keibuan, maka dia bisa kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri -dan hal itu akan menghambat perkembangan dirinya maupun orang lain.

Kedua bagian tersebut, aku kutip dari pengantar penerbit dua buku berbeda: “Only for you, Mothers” dan “Only for you, Fathers” yang diterbitkan oleh Curiosita, Yogyakarta. Aku menuliskannya disini, sebagai bagian dari permenungan untuk usia baru yang telah menjelang. Happy belated birthday, pals. Aku berharap, kutipan ini bisa menginspirasikanmu untuk segera menyelesaikan kuliah: DALAM RANGKA MEMENANGKAN CINTA KEDUA ORANG TUAMU.

I wish you all the best,

Mirisa Hasfaria, S. IP