– untuk Mirisa Hasfaria

Kembali, tak jadi kuantar kau ke bandara

Angin terasa mendesing di sini, dan pesawat yang
Kesekian itu menyisakan kisah, seperti tak selesai dan
Sangsai

Nanti apa kau mampu lagi bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Bagaimana ibu-bapakmu dan saudara-saudaramu
Dan kampung halamanmu yang lunglai dan masai?

Di sini berjuta gelisah untukmu. Orang-orang seperti halnya
Daun cokelat yang kena gugur. Semua jadi letih untuk bermimpi
Semua terasa sedih mengenal muasal dan kematian

Di sini kurasakan juga, bagaimana keciap pipit dan ketika belalang
Kayu tiba-tiba senyap, bagaimana pohon jambu depan rumahmu
Yang tempo hari kauceritakan tiba-tiba lenyap, sampai pada
Akhirnya cuma bisa kutulis puisi tentang nelayan-nelayan
Urung berlabuh, tentang pasir-pasir pantai tanpa gambar bunga
Dan rumah istana, tentang jalan-jalan yang amis mirip bangkai
Bangkai ikan, dan kayu di seluruh penjuru dalam sekejap rubuh

Apakah semua bisa dituliskan, Inong?

Kubayangkan, sedang kaulukis sebuah perahu lalu kau berlayar
Tatkala bah membuncah. Di atasnya, kaukenangkan anak-anak laut
Menatap maut, sementara di jauhan mengapung minyak bumi,
Rempah-rempah, tangisan yang panjang, dan sesekali letusan

Barangkali masa lalu selalu tak tertata rapi, patahan-patahan
Kenangan yang berantakan, kini begitu ringkas
Remuk dan remah
Kita kewalahan menatanya kembali

Di sini, angin terasa sepi. Mungkin kau sedang menghitung
Teman sebayamu dengan jari, masihkah mereka melaut, menjala
Maut, berlayar meninggalkan pulau yang kesakitan, Inong?

Dewadaru, 2005 (Oleh Hasta Indriyana)