Gampong Ramah Perempuan dan Anak atau GARAPAN merupakan salah satu program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias melalui RKA-KL atau anggaran Kedeputian bidang Pendidikan, Kesehatan dan Peran Perempuan – Direktorat Peran Perempuan dan Anak tahun 2006. Kegiatan ini dilaksanakan melalui Satuan Kerja Pemulihan dan Peningkatan Kesejahteraan Anak dan Perempuan (PPKAP) di 10 kabupaten/kotamadya di Provinsi NAD (peta kegiatan terlampir).

Adapun prinsip dasar dari kegiatan GARAPAN adalah:

  1. Menempatkan perempuan dan anak sebagai pusat pembangunan
  2. Menyuarakan hak perempuan dan anak serta mendengarkan suara perempuan dan anak
  3. Mengutamakan kepentingan terbaik bagi perempuan dan anak
  4. Tidak melakukan diskriminasi dalam pemenuhan dan pemberian perlindungan hak perempuan dan anak
  5. Menyediakan peraturan gampong, infrastruktur, terutama lingkungan tumbuh kembang anak secara optimal sebagai perwujudan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT

Inisiatif Gampong Ramah Anak (oleh BRR kemudian dikembangkan menjadi Gampong Ramah Perempuan dan Anak yang disingkat GARAPAN mengingat relevansi perlindungan untuk anak memiliki keterkaitan erat dengan perlindungan terhadap perempuan) berawal dari inisiatif Kota Ramah Anak yang dikembangkan oleh UNICEF yang merujuk pada hasil penelitian Kevin Lynch (arsitek dari Massachusetts Institute of Technology ) mengenai “Children’s Perception of the Environment” di Melbourne, Warsawa, Salta dan Mexico City tahun 1971-1975. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai masyarakat yang kuat secara fisik dan sosial; yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas; yang memberi kesempatan kepada anak; dan mempunyai fasilitas pendidikan yang memberi anak kesempatan untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka.

Selanjutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Konvensi Hak Anak pada tahun 1989 dengan memasukkan salah satu ketentuan mengenai hak anak untuk mengekspresikan pendapatnya. Ini artinya anak mempunyai suara, selain prinsip lain seperti non-diskriminasi; kepentingan terbaik untuk anak; dan hak untuk hidup dan mengembangkan diri.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro 1992, para kepala pemerintahan dari seluruh dunia menyepakati prinsip-prinsip Agenda 21 yaitu menyatakan bahwa anak dan remaja merupakan salah satu kelompok utama yang perlu dilibatkan untuk melindungi lingkungan dan kegiatan masyarakat yang sesuai dan berkelanjutan. Bab 28 Agenda 21 juga menjadi rujukan bahwa remaja berperan serta dalam pengelolaan lingkungan. Akan tetapi yang paling mendesak adalah agar pemerintah melibatkan warga dalam proses konsultasi untuk mencapai konsensus pada “Agenda 21 Lokal” dan mendorong pemerintah menjamin bahwa anak, remaja, dan perempuan terlibat dalam proses pembuatan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan. Inisiatif Kota Ramah Anak kemudian diperkenalkan oleh UNICEF bersama UN-HABITAT pada City Summit Istambul, Turki 1996. Inisiatif ini dievaluasi pada United Nations General Assembly Special Section on Children 2002 yang mendeklarasikan World Fit for Children. Inisiatif ini kemudian coba dikembangkan di Nanggroe Aceh Darussalam.

Aktivitas program GARAPAN mencakup hal-hal berikut:

  • Pembangunan Balee Ureung Inong di 10 kabupaten/kotamadya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai tempat kegiatan perempuan di desa
  • Bantuan perpustakaan untuk perempuan dan anak
  • Pembuatan play ground untuk anak
  • Penyelenggaraan Community Volunteer Training
  • Bantuan Kegiatan Desa

peta-kegiatan-garapan_p2tp2

Gampong Ramah Anak_Hamid Patilima

desa-yang-layak-bagi-pr-dan-anak-dlm-perspektif-islam