Penyusun: Ervita, S. Psi dan Puji Utami, SH

Editor: Triningtyasasih, M.A.

ISBN 979-3142-05-7, Cetakan I: April 2002

Penerbit: Rifka Annisa Women’s Crisis Center, diterbitkan untuk program Community Base Crisis Center atas dukungan AusAID

1. Apakah gender itu?

Gender adalah suatu sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Karena hal tersebut bersifat bentukan sosial maka gender tidak berlaku untuk selamanya, dapat berubah-ubah serta berbeda-beda antara satu tempat dengan lainnya

2. Bukankah perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu memang sudah bersifat kodrati?

Tidak selalu demikian. Yang disebut dengan kodrat adalah keistimewaan yang diberikan Tuhan sejak lahir kepada perempuan dan laki-laki dan tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Perbedaan yang bersifat kodrati antara perempuan dan laki-laki adalah sebagai berikut:

PEREMPUAN
Mempunyai vagina
Memiliki rahim sehingga dapat hamil & melahirkan
Menghasilkan sel telur (ovum)
Memiliki payudara
Mendapat menstruasi

LAKI-LAKI
Mempunyai penis
Menghasilkan sperma
Memiliki jakun
“Mimpi basah” (mengeluarkan sperma melalui mimpi)

3. Selama ini gender sering dibedakan dari seks. Apa perbedaannya?

Seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi-biologi. Sementara itu gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya. Peran gender adalah jenis pekerjaan yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki, yang terkait dengan budaya tertentu. Oleh karena itu sebenarnya pekerjaan tersebut dapat dipertukarkan antara laki-laki dengan perempuan.

Perbedaan seks dan gender:
SEKS
Bersifat biologis (jenis kelamin dan fungsinya)
Diperoleh dari Tuhan sejak lahir
Tidak dapat dipertukarkan antara perempuan & laki-laki
Berlaku dimana saja, kapan saja di seluruh dunia

GENDER
Bersifat tidak biologis, tetapi punya fungsi & peran sosial masing-masing
Bentukan adat/kebiasaan
Dapat dipertukarkan antara perempuan & laki-laki (artinya baik perempuan dan laki-laki mempunyai potensi kemampuan yang sama)
Berlaku di tempat dan waktu tertentu

4. Apakah perbedaan peran gender laki-laki dan perempuan?

Tugas-tugas domestik (di dalam rumah) seperti mengasuh dan mendidik anak, memasak, membersihkan dan merawat rumah dan lain-lain selama ini dianggap merupakan tugas perempuan, bahkan dianggap sebagai kodrat. Sementara itu laki-laki diberi peran menjalankan tugas-tugas di ruang publik, mencari nafkah dan menjadi kepala rumah tangga.

5. Apakah gender itu meliputi pembedaan peran saja?

Gender tidak hanya meliputi pembedaan peran saja, tetapi juga mencakup pembedaan wilayah, status, dan pensifatan.
a. Pembedaan peran dalam hal pekerjaan. Misalnya, laki-laki dianggap pekerja produktif dan perempuan pekerja reproduktif. Kerja produktif adalah jenis pekerjaan yang menghasilkan uang (dibayar). Kerja reproduktif adalah kerja yang menjamin pengelolaan dan reproduksi angkatan kerja (termasuk di dalamnya adalah mengurusi pekerjaan rumah tangga dan melahirkan anak). Kerja reproduktif ini biasanya tidak menghasilkan uang.
b. Pembedaan wilayah kerja. Laki-laki berada di wilayah publik (di luar rumah) dan perempuan berada di wilayah domestik (di dalam rumah/ruang pribadi)
c. Pembedaan status. Laki-laki berperan sebagai subyek, sebagai aktor utama, dan perempuan sebagai obyek atau pemain figuran (pelengkap). Karenanya, laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama dan perempuan pencari nafkah tambahan. Laki-laki sebagai pemimpin, perempuan dipimpin.
d. Pembedaan sifat. Perempuan dilekati dengan sifat dan atribut feminin misalnya halus, sopan, kasih sayang, cengeng, penakut, emosional, “cantik”, memakai perhiasan dan cocoknya berkain panjang atau rok. Sementara laki-laki dilekati sifat maskulin misalnya, kuat, berani, keras, rasional, kasar, gagah, tegas, berotot, aktif, dan karenanya memakai pakaian yang praktis seperti celana panjang/pendek dan berambut pendek.

6. Apakah pembedaan gender lebih banyak ditujukan kepada perempuan?

Pembedaan gender terjadi pada kedua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Tetapi pembedaan gender yang ditujukan kepada perempuan ternyata mengakibatkan ketidakadilan. Pertama ketidakadilan tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya hak-hak dasar manusia bagi perempuan. Hak-hak yang dimaksud adalah hak untuk menentukan diri sendiri secara mandiri. Seluruh peran, status, wilayah dan pensifatan kepada laki-laki dan perempuan, menghalangi perempuan untuk secara individual menjadi manusia yang mandiri dan berperan sebagai anggota kelompok masyarakat yang dapat terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dan pembuatan norma bersama.

7. Mengapa gender penting untuk dibicarakan?

Perbedaan laki-laki dan perempuan masih menyimpan beberapa masalah, baik substansi kejadian maupun peran yang diemban dalam masyarakat. Perbedaan anatomi-biologis antara keduanya cukup jelas, namun efek yang timbul akibat perbedaan itu menimbulkan perdebatan karena ternyata perbedaan jenis kelamin melahirkan seperangkat konsep budaya. Akibat lanjutnya, terjadi ketidakadilan gender.

8. Apa saja bentuk-bentuk ketidakadilan gender?

a. Marginalisasi (peminggiran)
Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi. Anggapan perempuan bekerja hanyalah untuk dirinya sendiri atau sebagai nafkah tambahan menyebabkan banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu strategis, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan. Juga, karena perempuan dianggap tidak punya kemampuan analitis maka perempuan hanya diserahi pekerjaan yang bersifat teknis dan rutin.

b. Subordinasi (penomorduaan)
Pandangan gender ternyata dapat menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Ada anggapan bahwa perempuan itu irasional, emosional sehingga tidak dapat memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Sebagai contoh, di sebuah rumah tangga masih sering kita dengar jika keuangan mereka sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk mneyekolahkan anak-anak mereka, maka anak laki-laki akan mendapatkan kesempatan pertama dibandingkan anak perempuan. Kenyataan seperti itu sesungguhnya berangkat dari suatu ketidakadilan gender.

c. Stereotipe negatif (pelabelan/pemberian cap negatif pada satu kelompok atau individu)
Banyak sekali ketidakadilan terhadap perempuan yang bersumber pada anggapan yang diberikan pada mereka. Sebagai contoh, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan berstatus janda dianggap sebagai penggoda. Tidak sedikit pula masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan bersolek adalah untuk memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan seksual atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan anggapan ini. Karenanya, bila terjadi perkosaan, masyarakat cenderung menyalahkan korban. Stereotipe terhadap kaum perempuan ini terjadi dimana-mana.

d. Beban ganda (double burden)
Perempuan dianggap bertanggung jawab terhadap tugas-tugas domestik seperti membersihkan rumah, memasak, melayani suami dan merawat anak-anak. Ketika perempuan juga bekerja di luar rumah, dan bahkan sering sebagai pencari nafkah utama, beban tugas domestik inipun masih dibebankan padanya. Tugas perempuan menjadi bertumpuk, sangat banyak. Bahkan banyak yang mengatakan tugas perempuan dimulai dari terbitnya matahari sampai “terbenamnya” mata suami.

e. Kekerasan terhadap perempuan
Banyak sekali kekerasan terhadap perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender. Kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan yang berbasis gender, yang mengakibatkan atau akan mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terhadap perempuan baik secara fisik maupun psikologis, baik yang terjadi di ruang publik maupun di ruang domestik

9. Apakah dapat diterangkan lebih lanjut hubungan antara gender dengan kekerasan terhadap perempuan?

Ya, anggapan bahwa laki-laki adalah makhluk utama misalnya membuat laki-laki banyak yang berperilaku seenaknya terhadap perempuan. Juga, pandangan bahwa suami adalah kepala keluarga menyebabkan banyak suami yang menganggap bahwa dia berhak melakukan apa pun terhadap istrinya. Pandangan ini juga dipercaya oleh aparat penegak hukum, yang jelas akan berpengaruh terhadap cara mereka mensikapi kasus-kasus penganiayaan terhadap istri, misalnya.

10. Apa saja bentuk kekerasan terhadap perempuan?

Banyak sekali, perempuan dapat menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh individu, oleh kelompok masyarakat atau bahkan oleh negara. Ada bentuk kekerasan yang bersifat langsung dan ada yang berbentuk tidak langsung. Kekerasan juga tidak hanya terjadi di ruang publik tapi juga di ruang domestik, dan dapat berupa kekerasan fisik, emosional, ekonomi maupun seksual.

11. Benarkah kekerasan terhadap perempuan itu ada?

Kekerasan terhadap perempuan memang benar terjadi. Rifka Annisa WCC misalnya, selama tahun 2000 telah menangani 382 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdiri atas 225 kasus kekerasan terhadap istri, 92 kasus kekerasan dalam pacaran, 28 kasus pelecehan seksual, 25 kasus perkosaan dan 12 kasus kekerasan dalam keluarga. Bahkan saat ini diperkirakan tiap 5 jam sekali terjadi kasus perkosaan di Indonesia. Fakta di atas membuktikan bahwa kekerasan terhadap perempuan memang benar terjadi. Belum lagi kalau kita perhatikan di media massa banyak terjadi perempuan korban perdagangan (dilacurkan) baik di dalam maupun di luar negeri ataupun menjadi korban kekerasan seksual di area konflik.

12. Apakah tidak mungkin terjadi kekerasan terhadap laki-laki?

Tentu saja mungkin, biasanya dilakukan oleh sesama laki-laki. Untuk kekerasan terhadap laki-laki oleh perempuan, walaupun mungkin ada, tidak sesering kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Keadaan ini disebabkan norma hukum dan budaya kita cenderung memberikan kekuatan dan kekuasaan lebih besar pada laki-laki daripada perempuan. Berdasarkan teori kekerasan, kekerasan biasanya dilakukan oleh mereka yang lebih berkuasa terhadap mereka yang lebih lemah.

13. Siapa sebenarnya pihak yang bersalah dalam masalah kekerasan terhadap perempuan ini? Kalau korbannya perempuan, apakah kemudian laki-laki yang menjadi pelakunya?

Kita sebenarnya bukan sedang bicara soal siapa menyalahkan siapa. Yang jelas sistem dan budaya selama ini memang telah menyebabkan perempuan lebih banyak menjadi korban kekerasan, sedangkan laki-laki cenderung menjadi pelakunya.

14. Apakah tidak mungkin perempuan juga berperan sebagai pihak yang menyebabkan kekerasan (dalam kasus perkosaan misalnya, bagaimana dengan mereka yang memakai baju mini?)

Penyebab kekerasan memang kompleks, tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Ada beberapa faktor yang saling terkait dan mempengaruhi. Yang penting bagi kita adalah untuk tidak hanya melihat penyebab yang nampak atau bersifat perorangan, namun dapat lebih dalam menganalisanya dengan menghubungkan faktor-faktor lain yang lebih besar. Dalam kasus perkosaan dan pelecehan seksual, misalnya, perempuan seringkali dianggap sebagai pihak yang bersalah karena mereka memakai baju mini atau berjalan sendiri di malam hari; mereka dianggap menggundang. Pada kenyataannya tidak hanya perempuan yang berpakaian mini saja yang dilecehkan, perempuan berjilbab atau berpakaian rapat pun (tidak mini) juga dilecehkan. Maka yang kemudian perlu dipersoalkan adalah mengapa laki-laki kemudian melakukan tindak kekerasan tersebut. Selain itu juga harus kita pahami bahwa selama ini perempuan diajari untuk berpikir bahwa “tubuh”, dan bukan pikiran, yang merupakan bagian terpenting dari seorang perempuan. Itulah sebabnya mengapa banyak perempuan yang memakai tubuhnya sebagai aset utama memperoleh uang.

15. Bagaimana dengan para bintang sinetron dan para model yang sering memamerkan tubuhnya? Apakah benar itu termasuk kekerasan?

Ini yang disebut dengan kekerasan oleh media. Pengeksposan tubuh perempuan di media memperkuat kecendrungan memposisikan perempuan sebagai obyek. Seringkali orang berpendapat bahwa itu bukan kekerasan karena para bintang tersebut melakukannya dengan sadar dan senang hati. Sekali lagi, kita harus melihat lebih dalam sehingga mengerti mengapa perempuan yang lebih banyak berprofesi sebagai model dan mengapa tubuh perempuan yang lebih banyak dieksploitasi sebagai komoditi iklan.

16. Sebab-sebab apa saja yang membuat kekerasan terhadap perempuan dapat dibenarkan/diterima?

Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan seseorang melakukan kekerasan, juga kekerasan terhadap perempuan. Bila kita membenarkan perilaku tersebut maka hal ini akan menjadikan kita turut membudayakan kekerasan. Karena itu secara nasional telah ada kesepakatan negara dan masyarakat Indonesia untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kebijakan “Zero Tolerance Policy” (tidak ada toleransi apa pun) terhadap semua bentuk kekerasan terhadap perempuan, dimanapun, kapanpun, dan atas nama apapun. 

17. Bagaimana kalau ada istri yang menghina suami sehingga suami jadi marah dan lalu memukul istrinya? Apakah hal tersebut tidak diperbolehkan?

Pada dasarnya tidak ada alasan yang dapat dibenarkan atas pemukulan terhadap istri. Memang suami yang memukul istrinya biasanya sering merasa “ada sebab/dorongan yang membuatnya melakukan hal itu”. Suatu alasan yang dibuat untuk pembenaran atas tindakannya. Tapi fakta menunjukkan bahwa banyak istri yang sudah menurut, mengabdi kepada suami tapi sering mendapat pemukulan. Kenapa ini terjadi? Karena suami dikondisikan untuk bebas berbuat semaunya terhadap perempuan. Itu bermula dari pengistimewaan laki-laki atas perempuan. Bukan berarti kita mengatakan bahwa istri boleh menghina suami. Tidak, Kalau kita menginginkan laki-laki berbuat baik terhadap perempuan, maka demikian pula sebaliknya. Kita menginginkan antara perempuan dan laki-laki terjadi komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

18. Apakah benar kekerasan itu merupakan persoalan? Mengapa banyak istri yang mengalami penganiayaan bertahan dalam perkawinannya? Kalau mereka tidak suka bukankah ada kesempatan untuk melawan atau bercerai?

Ada banyak alasan mengapa seorang istri hanya diam dan tetap bertahan. Beberapa memakai alasan masih cinta sebagai alasannya. Namun sebagian besar yang lain bertahan karena memikirkan anak-anak, memikirkan nama baik suami/keluarga, atau karena tergantung secara ekonomi/psikologis. Ada juga yang terpaksa bertahan karena diancam oleh suaminya. Masyarakat juge membebani perempuan sebagai penjaga moral keluarga. Artinya, kalau ada yang tidak beres dalam keluarga tersebut, maka pihak isterilah yang biasanya disalahkan. Perempuan tersebut akan dicari-cari kesalahannya; dituding tidak becus memasak, tidak pandai mengurus rumah tangga dan anak-anak, atau dianggap tidak pandai memuaskan suaminya.

19. Bagaimana dengan kasus perkosaan yang terjadi berulangkali oleh pelaku yang sama?

Perlu diketahui bahwa pelaku perkosaan yang terbanyak adalah justru orang-orang yang punya hubungan dekat, dan kebanyakan punya pengaruh terhadap korban. Guru, ayah, atasan, majikan, kakak atau paman, misalnya. Korban merasa tidak berdaya untuk melapor karena merasa tidak enak, takut tidak dipercaya, takut melukai perasaan ibu, takut kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Banyak di antara para korban ini yang mendapatkan ancaman supaya tidak melapor. Jadi tidak benar kalau dikatakan bahwa perempuan punya kecendrungan “masochist” dan justru menikmati kekerasan yang dialaminya.

20. Apa akibat kekerasan ini?

Kekerasan dapat berdampak sangat luas; tidak hanya kepada perempuan korban secara langsung, namun juga dapat berdampak terhadap anak-anak, dan bahkan kepada masyarajat. Dampak bagi perempuan mengalami luka-luka fisik, hamil ataupun kehilangan pekerjaan. Dalam jangka panjang perempuan dapat kehilangan kepercayaan dan konsep diri, dan bahkan pada situasi tertentu dapat menjadi gila. Anak-anak pun dapat terkena kedua jenis dampak ini. Pada kasus kekerasan terhadap istri misalnya, anak-anak dapat pula menjadi sasaran kekerasan (lanjutan) oleh si ibu. Dalam jangka panjang, anak ini daat tumbuh menjadi pelaku kekerasan. Orang tua merupakan figur model yang penting bagi anak. Anak cenderung untuk menirukan pola perilaku orang tuanya dalam menyelesaikan masalah. Anak yang sering melihat perilaku kekerasan akan menginternalisasi nilai-nilai kekerasan dan berangapan bahwa cara penyelesaian masalah dengan kekerasan merupakan cara yang wajar. Anak akan belajar bahwa ia tidak berharga dan ia menjadi tidak mampu mengungkapkan apa yang ia inginkan dan tidak inginkan.

21. Apakah ada karakteristik khusus perempuan yang rentan menjadi korban?

Sulit untuk menyebutkan karakter khusus yang menyebabkan perempuan rentan menjadi korban. Perempuan korban dapat ditemui di seluruh strata sosial ekonomi dan jenjang pendidikan. Merasa dirinya lemah, tidak berdaya, ketidakmandirian (baik ekonomi maupun kejiwaan), ketidakmampuan untuk bersikap dan berkomunikasi secara terbuka (asertif) dan percaya pada peran-peran gender adalah faktor-faktor yang menyebabkan perempuan mudah menjadi korban kekerasan.

22. Bagaimana karakteristik laki-laki pelaku?

Laki-laki pelaku kekerasan pun berasal dari seluruh strata, tidak mempedulikan latar belakang pendidikan, status sosial ekonomi, suku maupun agama. Biasanya laki-laki pelaku mempunyai rasa percaya diri rendah, menyalahkan orang lain atas perbuatannya, tidak merasa bersalah atas perilaku yang dilakukan, berasal dari keluarga yang mengalami kekerasan, secara emosional tergantung pada anak dan istri, tidak bekerja atau tidak puas atas pekerjaan, tidak mampu berkomunikasi, kepribadiannya tidak dapat ditebak dan membingungkan, tradisionalis, pencemburu, berperilaku seolah dapat berubah, melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan luka, mengasihani diri sendiri dan menganggap alkohol serta narkoba sebagai alasan pembenar melakukan kekerasan.

23. Bagaimana supaya perempuan tidak mudah menjadi korban kekerasan?

Pada intinya perempuan sendiri harus mempercayai bahwa perempuan adalah sosok yang juga kuat dan dapat membela dirinya sendiri. Perempuan juga punya hak untuk menentukan keputusan bagi dirinya sendiri dan bersuara atas keinginannya tersebut. Kepercayaan diri, kemandirian, keterbukaan dan ketegasan dalam bersikap merupakan salah satu hal yang dapat menghindarkan kita sebagai korban kekerasan. Namun hal itu pun harus didukung oleh sikap masyarakat dan negara sehingga orang tidak merasa bebas untuk melakukan kekerasan.

24. Apa yang dapat dilakukan seorang perempuan bila menjadi korban kekerasan?

Pertama, yakinlah bahwa kita berhak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari siapapun. Lalu, bicarakan pada pelaku bahwa kita tidak menyukai perlakuan kekerasan darinya. Bisa juga korban meminta pihak ketiga sebagai perantara untuk menyelesaikan masalah ini. Apabila upaya musyawarah tetap tidak mengubah situasi, maka korban dapat memperkarakan secara hukum. Hal ini merupakan jalan keluar yang dapat diambil secara umum.

25. Apakah kita dapat membantu korban kekerasan?

Ya, kita dapat mendampingi perempuan tersebut untuk berobat, menyelesaikan persoalan kejiwaannya serta untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara, baik dengan jalan hukum maupun melalui jalur di luar hukum. Dalam kasus istri yang dihajar/dipukul suami, misalnya. Kita dapat menawarkan istri tersebut untuk melapor penganiayaan atau periksa ke rumah sakit untuk penyembuhan dan sebagai alat bukti yang dapat dipergunakan di pengadilan. Dengan demikian diharapkan istri dapat bertindak lebih cepat dalam menghindari dan mengatasi kekerasan oleh suaminya. Jika istri tidak menghendaki pilihan tersebut maka kita tidak berhak memaksanya asalkan dia sudah tahu untung ruginya jika melapor atau tidak. Apabila keadaan telah menunjukkan adanya bahaya keselamatan terhadap istri maka kita berkewajiban membantu istri tersebut dengan cara mengadukan masalah ini, misalnya ke ketua RT agar dapat segera ditindaklanjuti.