[Sebagaimana termuat di Rubrik Catatan Pinggir Majalah Tempo, 15 Juli 2001]

Saya mencoba menebak aksennya. Saya tak dapat menemukan tanda apa pun. Kami minum kopi di tepi jalan ke-53 di New York –kami yang baru bertemu dan berkenalan di kota jutaan itu, kota yang seperti menara Babel yang gagal, kota tempat percakapan bisa terjadi dalam bahasa Ukraina atapun Tahiti, Spanyol ataupun Persi–dan yang saya ketahui tentang dia hanyalah bahwa ia memang bukan seorang Amerika. Dari mana? Ia menjawab, “Nama saya Elena P. Saya menyebut diri saya ‘eks-Yugo’, dan itu saja.” Ia tak menyebut diri ”Serbia”,”Kroasia”, atau ”Bosnia” atau apa pun yang lain. “Saya menampik diberi identitas etnis,” ia berkata sungguh-sungguh.” Saya adalah seorang atheis dalam hal etnis.” 

Kata “atheis” itu agak mengejutkan, dan barangkali tidak tepat, kecuali kalau itu berarti sikap menolak untuk menganggap bahwa ke-etnis-an –bagaikan Tuhan– menentukan segala-galanya, membentuk segala-galanya. Identitas etnis, ia berkata, adalah sesuatu yang sebenarnya dibikin-bikin, sesuatu yang kosong yang biasa dimanipulasikan. Ingat, katanya, Adolf Hitler yang menjeritkan keagungan Jerman sebenarnya bukan orang Jerman, Slabodan Miloševič yang membunuh atas nama kepentingan Serbia sebenarnya bukan Serbia. 

“Nama saya Elena P.,” katanya, dan ia pun segera mengingatkan bahwa ia datang dari sebuah negeri tempat Miloševič membantai dan sebuah cita-cita persatuan berantakan. “Saya datang dari sebuah negeri dimana orang membunuh dan dibunuh hanya karena berada dalam sebuah kategori tertentu dalam kitab sensus.” Ya, ketika menjadi “Bosnia” atau “Serbia” adalah sesuatu yang mutlak, ketika identitas seperti itu mampu membuat tergetar ataupun gentar, sesuatu yang membuat mereka yang ingkar akan berdosa atau berbahaya –seperti orang yang tak hendak beriman di tengah zaman ketika ber-Tuhan dan beragama merupakan satu-satunya kebajikan. 

Tapi bagaimana seseorang menampik sepotong sejarah dalam dirinya? Menjadi “Serbia”, sebagaimana menjadi “Madura”, bukanlah sebuah hasil kreasi yang datang dari titik nol, suatu creatio ex nihilo. Senantiasa ada sebuah riwayat. Selalu ada sebuah pola adat istiadat di masa silam yang ikut membentuk kepribadian seseorang. Selamanya ada sebuah peta jasmani yang disusun dalam proses biologis. Meniadakan bagian riwayat itu sama saja dengan membentuk diri menjadi sesuatu yang “baru” secara mutlak.  

Melupakan sesuatu secara total bisa menghasilkan gergasi yang sama menakutkannya dengan makhluk yang lahir ketika kita mengingat secara total: ketika kita bersikap seakan-akan warisan sejarah kita adalah sesuatu yang menentukan diri kita. Sebuah bangsa, seperti dikatakan Renan, memang lahir dari “melupakan” –dan bangsa Indonesia terjadi ketika orang “melupakan” dirinya sebagai “Sunda” atau “Minahasa”, sebagaimana bangsa “Amerika” terjadi ketika larut pelbagai anasir rasial dan agama dalam sebuah periuk yang bekerja terus. Tapi ada yang salah dan mencemaskan bila ke-Indonesia-an atau ke-Amerika-an atau ke-Jerman-an menjadi demikian sentral dan tak bisa ditawar-tawar. Nasionalisme punya sejumlah iblisnya sendiri. 

Mungkin sebab itu seorang teman dengan cerdas menunjukkan bahwa kata “atheis” di atas sebaiknya diganti dengan kata “agnostik” –sebuah sikap yang bila disederhanakan adalah begini: “Saya percaya tak ada bukti yang menunjukkan bahwa identitas etnis adalah sesuatu yang benar-benar hadir, tapi pada saat yang sama saya tidak menampik bahwa kehadiran itu bukan mustahil.” Sebab hidup seseorang memang selamanya bertukar-tukar antara berada-dalam-satu identitas dan berada-di-luarnya. “Identifikasi itu tidak stabil,” kata pemikir feminisme terkemuka, Judith Butler. Siapa pun tak pernah bisa melihat dirinya sendiri secara transparan. Jangan-jangan perumusan suatu identitas adalah sebuah ikhtiar yang tak sadar untuk mendekati sebuah ideal yang secara sadar kita benci, atau untuk menampik secara tak sadar sesuatu yang secara jelas-jelas kita agung-agungkan.  

Agaknya saya pun tahu kenapa Elena P. terdiam. Identitas adalah buah sejenis trauma. “Suatu identitas dipertanyakan hanya ketika ia terancam, seperti ketika si perkasa mulai runtuh, atau ketika yang celaka mulai bangkit, ketika si orang asing masuk lewat gerbang,” kata James Baldwin dalam esainya yang terang tapi pedih sebagai seorang penulis kulit hitam yang keluar dari rantaunya sendiri, The Price of the Ticket. Dalam saat-saat traumatik seperti itu orang merasakan kembali kekurangan yang pernah dulu terjadi dalam pengalamannya –dan melihat ke dalam cermin. Di sana tampak kepadanya sebuah sosok yang utuh, dan ia mengasumsikan bahwa itulah dirinya, meskipun sebenarnya dirinya adalah sesuatu yang tidak pernah sinkron dan padu, sering penuh kontradiksi, sebuah proses. Apa yang disangka utuh itu pun kemudian menjadi seakan-akan permanen dan diakui orang ramai, ketika ia memasuki sebuah tatanan simbolik –ketika bahasa mengambil alih, membentuk dan memermak dirinya. Ketika ia seolah-olah berbisik: Aku berkata, maka aku ada…  

Itulah yang terjadi ketika juru sensus datang mengetuk pintu. Di tangga itu mereka telah menyiapkan kategori. Mereka tak akan membiarkan Elena P. atau Ahmad J. atau siapa pun bergerak sebagai “non-identitas”: variasi-variasi beda yang tak terumuskan. Itulah saatnya ketika tak seorang pun akan punya hak untuk jadi atheis ataupun agnostik. Segera sesudahnya mungkin akan tiba para propagandis, para bigot, juga para pembunuh, dan ruang itu pun akan menyempit ke dalam sebuah empat persegi, dan eksit itu terkunci