ITIK BURUK RUPA

[Ini adalah cara saya memberikan “label” kepada diri saya sendiri]. Saya lahir di Banda Aceh 24 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Januari 1983, sebagai anak keempat dari pasangan Amir Syarifuddin, Sm. HK. dan Sri Hastuti. Saat itu, banyak orang berpikir betapa beruntungnya saya, karena sebagai anak bungsu, tentu saya akan dilimpahi dengan banyak kasih sayang dari kedua orang tua. [But, it might not like what people think]. Status bungsu tersebut tidak bertahan lama, karena 6 tahun kemudian, saya dikaruniai adik laki-laki yang lahir pada tanggal 13 Maret 1989 dan diberi nama Mirvan Syah Putra. Kembali, pada tanggal 5 April 1999 keluarga kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang kami beri nama Mirfathul Authar.

Saya menjalani masa kecil yang tidak bisa dikategorikan luar biasa; bersekolah di TK Persit Bungong Jeumpa (hal yang dilakukan oleh kami berenam karena menurut Mama, TK ini memiliki guru-guru yang penuh kasih sayang dan pantas untuk memberikan pendidikan usia dini kepada anak-anak beliau), MIN Banda Aceh (atas permintaan sendiri, meskipun kakak-kakak dan abang bersekolah di SDN 17 Banda Aceh yang dekat rumah), MTsN Banda Aceh-I (terpaksa, demi mama yang begitu ingin salah seorang anaknya menjadi ahli agama, dan entah mengapa, anak tersebut harus saya), SMUN 3 Banda Aceh (lagi-lagi mengulang tradisi keluarga, karena kakak dan abang saya bersekolah disana, selain, karna gagal keterima di SMU Unggulan Modal Bangsa yang menjadi keinginan besar orang tua saya), serta Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (meskipun lulus SPMB di Sastra Jerman Universitas Padjajaran Bandung, namun lulus cumlaude; GPA 3,82 dengan masa studi 3 tahun 5 bulan 3 hari)

Pertanyaannya: apakah perjalanan hidup saya mulus? SAMA SEKALI TIDAK!!! Terutama terkait penolakan-penolakan yang saya terima dari keluarga, orang-orang terdekat, dan lingkungan sekitar…

Dunia saya berubah ketika di usia 14 tahun, saya resmi mengidap asma, setelah bertahun-tahun terus batuk dan sesak. Pengobatan selama enam bulan yang diharapkan mampu merubah riwayat sakit saya, gagal. Sejak saat itu, dimulailah penderitaan panjang ketika serangan datang; keharusan mama berjaga hingga semalaman, kesulitan saya untuk bisa tidur nyenyak, hari-hari izin sakit dari sekolah….

Penolakan pertama datang dari abang saya, yang merupakan anak tertua di keluarga. Suatu kali, dia begitu marahnya terhadap saya hingga mengeluarkan kata-kata, “Kamu seharusnya tau diri, kehadiran kamu di keluarga ini hanya menghabiskan uang. Kamu sadar ngak, sudah berapa banyak uang yang Papa keluarkan untuk biaya pengobatan kamu?”

[Sakit…]

Periode selanjutnya adalah, penolakan-penolakan yang muncul dari lingkungan sekolah, ketika beberapa kali saya kehilangan kesempatan, seperti misalnya mewakili sekolah saya berdialog dengan Presiden Republik Indonesia, hanya karena seorang guru lebih memilih “murid kesayangannya” yang menjadi duta. Sehingga, sejak awal saya pun disingkirkan dengan tidak diikutsertakan dalam audisi sekolah…

Lagi, ditolak masuk ke SMU Unggulan Modal Bangsa, hanya karena gigi saya memiliki masalah katup terbuka.

Yang paling menyakitkan, penolakan dari orang yang telah mengandung dan melahirkan saya… (seharusnya, ini tercatat sebagai penolakan paling awal. Namun karena hal ini baru saya ketahui sewaktu duduk di bangku SMU, penolakan ini pun tercatat sebagai yang kesekian). Suatu hari, secara tak sengaja, saya mendengar percakapan antara Mama dan kakak perempuan tertua. Saat itu, Mama mengutarakan kekecewaannya karena sejak awal kehamilannya yang keempat, beliau demikian yakin bahwa yang akan lahir nantinya adalah seorang bayi laki-laki (mungkin, di tahun 1982-1983, teknologi USG belum ada ataupun belum dikenal secara luas, sehingga, prediksi terhadap jenis kelamin bayi dilakukan berdasarkan tanda-tanda yang muncul saat kehamilan). Perasaan kecewa yang luar biasa muncul ketika yang keluar dari rahim beliau adalah saya…

[Sakit…]

Hari ini, saya berhenti menghitung penolakan-penolakan yang saya terima dari dulu… Pun, percakapan-percakapan seperti:

– Ngapain kamu ikut beasiswa AFS dan bersekolah di Swiss selama setahun, ketika pulang ke Indonesia kamu harus tinggal kelas?

atau

– Kok kamu mau tinggal kelas setahun?

Dulu, saya ngak pernah punya keberanian untuk menjawab dengan kalimat ini, namun saat ini, saya ingin mengucapkannya, “Bapak/Ibu guru yang terhormat, perlu Anda ketahui, saya beruntung karena menjadi satu dari SEMBILANBELAS anak Indonesia yang mengikuti program AFS INAYPNH ’01. Jumlah sembilanbelas tersebut didapat setelah menyisihkan ratusan anak usia SMU dari seluruh Indonesia yang berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa ini. Dan saya menjadi satu-satunya wakil dari Aceh. Sebagai informasi, saya tidak pernah tinggal kelas, jika Anda punya waktu untuk melihat buku rapor saya, Anda tidak akan menemukan keterangan “tinggal kelas”. Kepergian saya selama setahun untuk pertukaran pelajar oleh pihak sekolah disebut sebagai “CUTI”.”

Terlebih, untuk pertanyaan ini:

– Kamu benar adik kandungnya Titin (kakak saya yang bernama lengkap Miryanti Sari dan kebetulan hanya terpaut setahun usianya. Sehingga kita sempat bersama selama 2 tahun di SMUN 3 Banda Aceh)? Kenapa dia begitu cantik dan kamu jelek?

– Kok bisa ya, kamu jadi adiknya Titin?

– Kamu yakin kamu anak kandung di keluarga kamu? Jangan-jangan kamu anak angkat?

Para hakim yang terhormat (Anda SEMUA pantas dipanggil begitu, karena kemampuan luar biasa menghakimi seseorang), saya ingin sekali memberi Anda KULIAH SINGKAT dengan kalimat-kalimat ini, “Kalau Anda ingin menggugat Tuhan, silahkan layangkan doa gugatan Anda kepadaNYA. Saya tidak memiliki kuasa untuk mempertanyakan mengapa kakak saya yang kecantikannya dikagumi semua orang itu memiliki semua bentuk wajah Mama yang memang mirip Ayu Azhari; sedangkan saya mirip Papa.. Terima kasih karena telah berkali-kali menyadarkan saya tentang “betapa tidak menariknya saya secara fisik” dengan senantiasa berkata bahwa saya dan kakak bagaikan langit dan bumi.

[Teruntuk Mia alias Darmiati yang saat ini berada di surga, berpulang kepadaNYA saat musibah tsunami lalu… TERIMA KASIH karena senantiasa membela saya dengan selalu mengatakan kepada semua orang bahwa kami berbeda karena yang satu mirip Papa dan satunya lagi mirip Mama. I love you MIA, thanks for this friendship that I would never regret forever!]

– Atau penolakan yang berujung pada pertengkaran hebat dan mengakibatkan Mama menolak berbicara dengan saya selama 3 bulan pertama masa kuliah saya

Mama dan Papa (yang saat ini telah berada di surga) tersayang, serta semua orang yang saya yakini menyayangi saya dengan CARANYA YANG BERBEDA (seperti judul sebuah lagu, KUBENCI KAMU DENGAN CINTAKU), izinkan saya membela diri dengan kalimat ini, “Saya tidak pernah peduli dengan prestise. Anda semua mungkin benar dalam perspektif Anda ketika menyebut saya bodoh karena lebih memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang notabene swasta dibandingkan di sebuah universitas negeri bergengsi yang menjadi idaman banyak orang.. Tapi, harap mengerti bahwa saya hanya menginginkan kuliah di Ilmu Hubungan Internasional, tidak peduli dimana pun itu… Karena menurut saya, scoupe ilmu ini demikian luasnya, hal yang akan sangat membantu ketika nanti menjadi pelayan masyarakat. Paman saya mungkin memiliki nasib yang berbeda sebagai lulusan Ilmu Politik UNPAD, yakni menjadi PNS dengan karir tertinggi Sekretaris DPRD Tingkat I Provinsi Sumatera Utara. (Oleh beliau, dipakai untuk memojokkan saya dengan mengajukan pertanyaan, “Mau jadi apa kamu setelah lulus”?). Tapi saya yakin, bahwa Tuhan Maha Adil dan setiap orang memiliki peruntungannya sendiri. Saat ini, izinkanlah saya menjalani peruntungan yang saya pilih… Sekali lagi, ini bukan tentang seberapa banyak uang yang akan saya kumpulkan nanti, bukan tentang gengsi almamater, bukan tentang status sosial apa yang akan melekat di diri saya akibat memilih sekolah tersebut. INI ADALAH TENTANG EKSISTENSI DIRI DAN INTEGRITAS. Dengan pilihan ini, saya eksis dan memiliki integritas..”

Dan yang terpahit…

– Kenapa cuma 3,82? Apa ngak bisa 4,00 dan menjadi yang tertinggi di UMY?

Mama yang tercinta… I’VE TRIED MY BEST. 3,82 membuktikan dua hal Ma; saya tidak hanya layak mendapat predikat cumlaude ala UMY (karena persyaratan lulus cumlaude di UMY adalah GPA di atas 3,50) , namun juga LAYAK ALA UGM (persyaratannya lebih tinggi: 3,75). YANG KEDUA, predikat lulusan tercepat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini membantah banyak keyakinan, seperti: mana ada aktivis yang punya banyak kegiatan di luar kampus bisa lulus cepat? Lulus setelah 10 semester aja udah sukur… Atau omongan miring lain, “Kok kuliahnya cuma 3,5 tahun, program diploma ya?”

Pals, kalian SALAH BESAR. Semua ini adalah tentang komitmen dan TANGGUNG JAWAB (DUA HAL YANG NGAK PERNAH KALIAN, PARA AKTIVIS KAMPUS, PUNYAI). Saya berkonflik dengan keluarga atas pilihan saya kuliah di UMY, selain karena biayanya yang mahal, juga karena UMY berstatus swasta. Tapi saat itu, saya memberanikan diri membuat “kontrak studi” dengan kedua orang tua, bahwa saya akan menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun, dan lulus cumlaude…

Ketika orang tua saya tahu mengenai padatnya aktivitas saya di luar kampus; bergiat bersama Bungong Society, Taman Pelajar Aceh Yogyakarta, jadwal kursus di Lembaga Indonesia Perancis, diskusi-diskusi rutin hingga tengah malam, pekerjaan part time: muncul ultimatum untuk mengurangi kegiatan karena alasan kesehatan dan ketakutan mengganggu kuliah. Namun saya kembali meyakinkan Mama dan Papa, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan saya buktikan ini; selalu berhasil mengambil mata kuliah maksimal di tiap semester, tentu karena IP semester sebelumnya yang memuaskan (21 SKS untuk semester 1 dan 2 karena sistem paket; 24 SKS untuk semester 4 dan 5; 24 SKS + 3 SKS KKN (yang diganti magang dan dilaksanakan di Manila, Philippines, sejak tanggal 15 Maret – 10 Mei 2005) saat semester 6, menyelesaikan skripsi hanya dalam satu semester, yakni di semester 7 (satu-satunya skripsi yang ditulis berdasarkan penelitian lapangan, sementara skripsi lain di HI UMY ditulis berdasarkan studi literatur), hanya mendapatkan nilai B untuk 2 mata kuliah saja tiap semesternya, tidak pernah mengikuti semester pendek karena tidak ada mata kuliah yang perlu diulang (akhirnya, saya maksa untuk merasakan “SP” saat liburan semester 6, mengambil 3 mata kuliah yang mendapatkan nilai B untuk meng-upgradenya menjadi A, dan SUKSES!).

Ini juga tentang kesadaran, mengenai biaya-biaya yang harus orang tua bayarkan seiring dengan semakin lamanya kita menyelesaikan studi. Saya sadar, ketika saya kuliah, pada saat yang sama orang tua sedang membiayai kuliah 3 orang anak, serta biaya sekolah 2 orang anak. Sementara, biaya kuliah yang saya bayarkan per semester, masih lebih mahal dari jumlah biaya kuliah abang dan kakak-kakak saya. Apakah kenyataan ini ngak cukup menyadarkan saya, dan mahasiswa UMY lain yang memiliki latar belakang serupa saya, untuk segera menyelesaikan studi? Betapa memalukannya, jika tak seorang pun kalian yang peduli terhadap kondisi seperti ini…

Mama dan (Papa) tersayang… Semua pencapaian (terbaik, menurut saya) itu tidak mudah.. Kenapa saya masih harus mendengar penolakan? Terutama ketika menjelang ujian akhir semester 5, musibah itu datang… Dan merubah kehidupan saya 180 derajat? Bagaimana saya bisa berkonsentrasi ujian, sementara pikiran saya terus tertuju pada nasib Papa, Kak Titin, Ovan dan Odhye yang hingga saat ini jenazahnya belum ditemukan? Bagaimana saya bisa fokus untuk menata kehidupan saya ke depan, sementara hidup menjadi sama sekali tidak mudah; mengalami kebangkrutan finansial, kehilangan tempat tinggal, terancam putus kuliah karena ketiadaan biaya, serta rasa putus asa dan kehilangan luar biasa karena kepergian mereka yang tidak saya inginkan..?

Tapi di luar itu semua, saya mempunyai tanggung jawab, untuk menyelesaikan kuliah yang hanya tersisa 3 semester lagi. Saya mempunyai komitmen untuk lulus cumlaude dan memaksa diri untuk memastikan bahwa semuanya harus “kembali ke jalur semula”… Sangat tidak mudah… Di tengah keputusasaan karena ketiadaan biaya, saya mengemis beasiswa ke pihak UMY (Teruntuk Fajar Radite, terima kasih karena telah bersedia memobilisasi “power” yang kamu punya untuk mendesak pihak rektorat. Saya berhutang banyak padamu…), saya menadahkan tangan kepada para donatur (Teruntuk keluarga Alice and Ralf Vetterli di Swiss, Mas Bimo Nugroho di Jakarta serta KLP UGM yang dipelopori Kak Intan, saya berhutang sangat banyak kepada Anda semua…), saya puluhan kali memaksa diri berdamai dengan keinginan untuk bunuh diri….

Semuanya ngak mudah Ma… Tolong terima saya dengan segala kekurangan ini (terutama kekurangan 0.18 di GPA tersebut)

Saya ingin, diterima apa adanya; karena terlahir sebagai perempuan, terutama karena terlahir sebagai MIRISA HASFARIA. Saya ingin, kehadiran saya di dunia ini, memberi manfaat bagi orang lain di sekeliling saya, terlepas dari pilihan-pilihan pribadi saya seperti almamater, jurusan kuliah, serta profesi yang saya tekuni kemudian… Saya ingin diterima, seperti adanya saya, meski saya ngak secantik Mama, ngak secantik kedua kakak perempuan saya yang memiliki begitu banyak pengagum… Dan, dalam masa-masa penantian saya terhadap penerimaan itu, begitu inginnya saya mendengar ini

Dearest Mirisa, YOUR PRESENCE IS A GIFT TO THE WORLD

You’re unique and one of a kind

Your life can be what you want it to be

Take it one day at a time

Count yor blessings, not your troubles,

And you’ll make it through what comes along

Within you are so many answers,

Understand, have courage, be strong

Don’t put limits on yourself,

Your dreams are waiting to be realized

Don’t leave your important decision to chance

Reach for your peak, your goal, and your prize

Nothing wastes more energy than worrying

The longer a problem is carried, the heavier it gets

Don’t take things too seriously

Live  a life of serenity, not a life of regrets

Remember that a little love goes a long way

Remember that a lot goes forever

Remember that friendship is a wise investment

Life’s treasures are people… together

Have health, hope and happiness

Take the time to wish on a star

And don’t ever forget for even a day, HOW VERY SPECIAL YOU ARE!

Papemelroti 9044 – 26

Dan izinkan saya, mulai hari ini, menanggalkan predikat ITIK BURUK RUPA tersebut dari diri saya… DAN TERIMA SAYA APA ADANYA….