Cerita ini Icha dapatkan dari tampah gondrong yang bisa dihubungi di t4mp4h@yahoo.com]

Siang tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari. “Coba lihat ini. Kamu sudah baca?” katanya. Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar ‘mengganggunya’.

“Seorang ibu tega membunuh anak-anaknya yang masih kecil. Tiga orang sekaligus.” Oh, itu. Ya, belakangan ini media pasti memuat kisah itu.

“Ya, saya sudah baca,” kataku. Mataku masih di laptop. Jemariku masih di keyboard. Setumpuk buku masih ada di sampingku, beberapa terbuka lembarannya. Pekerjaanku setiap hari.

“Ada apa dengan berita itu, Bu?” “Nggak, ibu nggak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan itu.” “Ibu sudah baca semua beritanya?”

“Sudah. Kamu tahu nggak, padahal dia lulusan universitas anu dengan IP tiga koma dua sekian,” kata ibu menyebut nama sebuah perguruan tinggi terkenal di Indonesia. “Jadi pasti dia orang yang pintar.”

“Ibu yakin dia pintar?” “Ya, kan kata koran IP nya tiga koma dua. Terus, suaminya juga aktivis agama anu.” Kali ini ibu menyebut nama sebuah nama tempat ibadah di depan perguruan tinggi itu yang terkenal banyak mewadahi aktivitas keagamaan mahasiswa di kota itu.

“Tapi dia melarang istrinya bekerja.” “He’eh,” aku menanggapi beliau.

“Jadi, menurut ibu peremopuan itu jahat ya?”

“Apa ada perempuan baik yang tega membunuh anak-anaknya?”

Aku menghela nafas, pelan-pelan, supaya jangan sampai kedengaran beliau. Ini sisi yang tidak aku sukai dari umumnya media kita. Di sebagian acara televisi maupun rubrik di koran, banyak yang isinya menggiring persepsi pembaca untuk sampai pada sebuah penghakiman. Belum lagi acara-acara gosip dan koran tabloid, yang terkesan mendidik pembacanya untuk menikmati kisah jatuhnya kehidupan orang, pembongkaran aib-aib, mengangkat masalah rumah tangga orang lain,dan semacamnya. Kinda sucks. As if we were a sarcogyps calvus society, and have many media for our brain to eat.

Kuhentikan pekerjaanku. Lalu kuraih cangkir kopiku, sambil menghadap sepenuhnya pada beliau, yang memberikan setengah nyawanya untukku ketika melahirkanku. 

“Bu, seperti ibu tahu, saya kan suka motret. Motret orang.” Ibu sedikit bingung dengan tanggapanku. Hubungannya ke mana? Itu mungkin kata yang ada dalam kepala beliau saat itu. “Kalau ibu suka menikmati hasil foto saya, sebagus apapun, itu hanya sebuah potret. Kalau saya memotret pengemis yang wajahnya penuh penderitaan, itu adalah dia, pada saat itu, yang bisa tertangkap oleh kamera. Pada saat itu saja.” “Hmm…” “Potret seorang pengemis, tidak menggambarkan kenapa dia bisa menjadi seorang pengemis. Kita tidak bisa bilang bahwa dia seorang pemalas sehingga jadi pengemis, atau ibu tirinya dulu jahat, ia tidak diberi kesempatan bersekolah sehingga jadi pengemis yang wajahnya selalu menggambarkan penderitaan yang mendalam. Bu, potret hanya sebuah data. Data yang diambil pada satu saat tertentu. Besoknya, data itu bisa berubah sama sekali. Kalau di foto sekarang wajahnya terlihat penuh penderitaan, sejam berikutnya bisa jadi saya berhasil memotret dia sedang tersenyum senang. Semua tergantung pada saya sebagai pemotret, pada momen mana foto itu diambil. Tapi satu foto tidak bisa menggambarkan seluruh momen kehidupan si pengemis. Foto adalah sebuah cara bercerita yang terbatas.”

Ibu masih terus memperhatikan. “Berita juga begitu, bu. Seperti potret. Si wartawan hanya memotret apa yang nampak di matanya pada saat itu. Ia hanya menangkap gejala, menangkap indikasi. Kemudian ia menuliskannya atau menyiarkannya di televisi. Ketika wartawan menangkap sebuah perilaku seorang perempuan yang membunuh anak-anaknya, itu sama sekali tidak menggambarkan bahwa perempuan itu jahat secara keseluruhan. Kalau tentang perilaku membunuhnya itu, oke. Memang itu perilaku yang, seperti ibu bilang, jahat. Tapi itu pun hanya perilakunya, belum tentu orangnya. Orang, jika berperilaku tertentu, pasti ada penyebabnya, ada pencetusnya. Ketika orang merasa dirinya terjepit, maka nalurinya bisa membuat seseorang mengeluarkan perilaku yang tidak terduga. Dan ibu, satu potret itu sama sekali tidak bisa menggambarkan bahwa dia memang manusia yang jahat, dari lahir sampai matinya.

Bu, kita sebagai pembaca, jangan hanya melihat permukaannya. Yang harus kita lihat adalah apa yang ada di balik itu semua. Ada berita artis anu yang menceraikan istrinya, kita langsung berfikir bahwa dia suami yang jahat. Tidak, belum tentu Bu. Masalah rumah tangga adalah masalah yang terlalu kompleks untuk diliput di satu atau dua berita, dan satu perceraian hanya sebuah indikasi dari sebuah kehidupan rumah tangga. Hanya indikasi. Bisa banyak faktor yang menyebabkan sebuah perceraian, dan siapa tahu itu memang langkah yang benar.” Ibu masih memperhatikan juga. Kali ini agak merenung, agaknya ‘mencerna’ apa yang aku sampaikan.

“Kalau di kasus tadi, Bu. Di balik satu pembunuhan itu, ada banyak sekali kemungkinan lain yang memicu si ibu membunuh anak-anaknya. Kenapa hanya melihat pembunuhannya? Coba ibu juga pertimbangkan misalnya begini: perempuan itu orang yang cerdas, pintar, pernah kuliah di dua jurusan, Arsitektur dan Planologi, di universitasnya dengan IP tiga koma dua. Pinter kan?”

“He’eh.”

“Tapi setelah lulus, suaminya melarangnya bekerja. Padahal siapa tahu, dia sudah punya sebuah rencana besar setelah lulusnya. Tapi karena suaminya mengharuskannya tinggal di rumah, maka kehidupannya menjadi terasa seperti neraka buatnya. Ibu bisa bayangkan kalau orang sepintar itu, dengan semua potensi yang Allah berikan kepadanya, hanya dibolehkan suaminya untuk berurusan dengan dapur, cucian, setrikaan, dan mengasuh anak. Tentu akan frustrasi.”

“Iya juga.”

“Kemungkinan lain: si perempuan menyadari bahwa ia harus melakukan semua itu, maksudnya meninggalkan apa yang bisa ia raih dengan potensinya, dan memilih jadi ibu rumah tangga, justru awalnya diniatkan sebagai sebuah bakti untuk suaminya dan anak-anaknya. Ini justru mulia kan? Hanya mungkin ia pada titik tertentu tidak kuat, dan terpiculah rasa frustrasinya.”

“Oke. Kamu benar. Kalau gitu, apa menurut kamu yang jahat justru suaminya?”

“Lho, bukan Bu. Bukan begitu. Jangan jadi menghakimi si suami karena cerita saya dong. Kemungkinan lain yang saya katakan tadi hanyalah sebagai sebuah gambaran, bahwa kita tidak bisa menghakimi suatu persoalan yang dialami manusia hanya melalui pengamatan yang sebentar saja, dalam jangka waktu tertentu. Karena kemungkinannya sangat luas. Wartawan hanya menuliskan satu kejadian. Sebuah potret. Tapi pembaca seharusnya menjaga hatinya untuk tidak berprasangka buruk hanya karena satu kejadian saja. Itu hanya indikator, seperti speedometer mobil. Kita tidak bisa menilai seperti apa desain mesin mobilnya, sekuat apa bautnya, hanya dengan melihat speedometer-nya. Menurut saya, wartawan seharusnya menjaga untuk tidak menggiring persepsi pembaca, dan Ibu sebagai pembaca harusnya juga tetap tangguh untuk menjaga persepsinya supaya tidak menjadi terpengaruh karena membaca berita. Juga ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Kalau si A sekarang tingkah lakunya sedang menyebalkan, kita suka seterusnya bilang bahwa dia adalah orang yang menyebalkan. Padahal kan, dia menyebalkan hanya saat itu? Kemarin dia orang yang berbeda, dan besok pun dia orang yangberbeda. Sebaliknya, kalau si B orang yang sangat menyenangkan, itu yang kita potret saat itu. Besok dia akan berubah, dan kemarin dia adalah sosok yang berbeda. Bu, kita tidak akan pernah tahu bagaimana seseorang secara keseluruhan, walaupun itu dari seorang ibu terhadap anaknya. Hiduplah dalam kehariinian. Persepsi kita mengenai hari ini, jangan diperpanjang ke arah kemarin dan besok. Jangan terlampau menggeneralisasi segala sesuatu, supaya bisa berprasangka baik. Supaya hati kita tetap netral. Yesterday has passed,tomorrow is another day. We live our life today, Bu.” Kali ini ibu mengangguk-angguk.

“Kita bukan hakim, Bu. Kalau kita hakim, kita wajib memberikan keputusan, karena itu adalah tanggung jawabnya. Tapi kita kan bukan hakim? Untuk apa kita mengambil tanggung jawab untuk memberi sebuah penghakiman, kalau nanti jadi bahan pertanggungjawaban kita setelah mati? Walaupun itu hanya sebuah penghakiman yang di ujungnya berlaku bagi diri kita sendiri. Setiap diri kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kita, paling tidak, adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Umat yang terkecil yang harus kita pertanggungjawabkan kelak, ya diri kita ini.”