I

“I hate you and I won’t get any SMS from you anymore”
[Sender: +62815 792 6314]

Apakah kalimat – kalimat itu yang telah menggerakkanmu untuk menelponku di pagi Jumat, 22 Oktober lalu?
Entahlah, aku tidak cukup mengerti bagian mana di kalimat tersebut yang tidak layak untuk ditulis. Oke, aku punya saran, bagaimana kalau aku menjadikan kalimat di atas sebagai kalimat majemuk pertentangan dengan menempatkan konjungsi “tapi” sebagai pengganti “dan”? Sehingga kalimat baru nantinya akan memberimu keleluasaan untuk bersikap.
Dan, kalimat itu akan berbunyi seperti ini:
“Saya benci kamu tapi saya mau menerima SMS – SMSmu”, atau
“Saya tidak membenci kamu tapi saya tidak mau menerima SMS – SMS darimu”
Silahkan memilih…

II

Lagi – lagi entahlah, mungkin aku salah menafsirkan SMS yang kau kirim tanggal 11 Oktober lalu, tepatnya pukul 21:42, ketika malam pun belum terlalu renta…
“Sejak kau pergi membawa cinta…
Angin yang berhembus tak lagi menawarkan keteduhan.
Air yang mengalir tak lagi membawa kesejukan
Kepada yang pergi membawa cinta, kembalilah!
Aku ingin mengecup bibirmu barang seteguk.
Kita ketemuan tanggal 19 di AKY ya”

Aku menerjemahkan kalimat terakhir sebagai janji.
Dan, aku marah, karena kau tidak menepatinya…
[Oke, mungkin aku perlu menjelaskan, bahwa bagiku pertemuan adalah ketika kontak fisik yang biasanya diawali dengan berjabat tangan, memperkenalkan nama dan percakapan remeh temeh terjadi diantara individu – individu yang telah merencanakan kontak tersebut. It sounds unfair, ketika yang kau lakukan adalah mengamati segala gerak gerikku dari kejauhan, sedangkan aku, bahkan, tidak pernah tahu bagaimana rupamu]

III

Hidup adalah memilih…
Dan, aku menghargai ketika kau memilih untuk
“Selalu ada akhir dalam sebuah babak.
Pertemuan kita suatu saat nanti adalah akhir dari sebuah perkenalan
Sebab aku harus beranjak lagi mencari sunyi diri”
[Sent: 29 August 2004, 00:02]

Ya, silahkan beranjak, kemana pun kau suka, karena itu adalah pilihanmu…
Aku pun telah memilih untuk membuat keputusan yang seperti ini
“Pergilah kemana pun sesukamu…
Aku berpikir, pertemuan diantara kita tidak perlu.
Lebih baik bagiku mengetahui bahwa kau tidak pernah benar – benar singgah di hidupku”
[Sent: 29 August 2004, several minutes after your SMS]

Bagiku, kau tidak pernah nyata. Bagiku, kau selamanya imajiner. Jadi, kenapa berharap akan sebuah rendez-vous? Cukuplah bagiku mengenalmu sebagai “lelaki berno. Ponsel +62815 142 52 152”
Ingatan inipun, telah kuhapus dari phone book-ku. Apakah lagi yang tersisa dari kenangan tentangmu?
TIDAK ADA

Catatan 22 Oktober 2004

Note: terima kasih karena telah bersedia menghadiri acaraku! Dan terima kasih pula atas keisenganmu memasuki hidupku selama beberapa waktu. Salam…