Anggaplah ini sebuah catatan akhir, meski tidak persis seperti itu. Halaman ini saya dedikasikan untuk Afr**** A.*., rekan kerja di La KASSPIA. Salah satu barisan pemujaku…
Tidak ada yang istimewa tentang dia, selain; mendedikasikan lagu “Menikah” – Java Jive hanya untukku, menyebutku sebagai sosok yang terindah untuknya, menghadiahiku 5 puisi paling romantis yang pernah aku dapat dari seorang pemuja, sekaligus menghadiahi “makian, cercaan, penghinaan terbesar sepanjang hidup. Musuh dari genk S**** dan belasan penggugat pada H+1 ultahku yang ke-17”. Halaman ini sebuah salam perpisahan, untuk sebuah episode hidup paling menyakitkan menyangkut seorang pecundang. Icha membencinya!!!
Berani-beraninya dia tetap menghubungi Icha dan meminta kesempatan kedua sebagai teman -jalan tak mulus yang pernah kita rintis, namun disalahgunakan untuk “mengusir” seorang perempuan dari hidupnya-
Ini adalah kenanganku tentang dia

Putri

Kau nirwana cinta
Matamu simpan rasa
Kau kuncup mungil bunga liar
Belantara cinta harapmu mekar
Kau piranha
Bisamu tikam rasa
Kau bidadari
Sayangmu semua terbagi
Kau widuri
Kicaumu damaikan hati
Kau misteri
Pahamimu sasari hati
Kau bukan matahari
Karena cintamu tak terbagi
Kau bukan bintang
Karena indahmu kau pendam
Kau pualam
Tetesan air buat kau tegar
Kau legenda pengagum cinta
Putus asa dera mereka
Untukku
Kau putri karena milikimu bukan ambisi
Untukku
Kau puri karena putih suka tak mungkin kuberi

Mereka – Kau dan Aku

Mereka…
Adalah barisan pemuja cinta
Utusan dewi-dewi asmara
Memberi titah dari seribu lidah dusta
Tanpa tabuhan gendang
Dan tiupan serunai
Boleh melacur cinta tanpa makna

Mereka…
Adalah barisan pengawal cinta
Bertameng asmara
Dan bersenjata dusta
Berburu tak henti
Demi altar cinta yang mereka sebut suci

Mereka…
Adalah pemuja dan pengawal cinta
Menerima titah dari altar asmara
Merayu sembahan dan dustanya janji

Aku…
Bukan pemuja cinta
Tidak
Mengawal asmara
Aku adalah pelacur kata
Cinta bagiku tak ada

Kau…
Adalah cakrawala
Tempat bintang melumat senja
Kau mukena hati
Tempat ikhlas lidah berbagi
Untuk mereka – kau – aku tak beri

Dan – Kau Beda

Dan…
Biarkan rinduku
Bergelayut pada angin
Mengalir pada air
Terombang ambing pada ombak
Dan…
Biarkan dia terhembus
Sampai ke utara
Tapi…
Kupastikan padamu angin
Padamu air
Untaikan dia menjadi kata
Dan kirimkan padanya
Sebagai tanda suka
Karena…
Suatu masa
Dia akan rebah di bahuku
Akan kuceritakan tentang hikayat masa
Dan pengembaraan hati
Mencari cintanya

Rayuanku

Kupastikan padamu laut
Kau boleh tersedu
Kau boleh marah
Silahkan kau telan bibir pantai bumi
Tapi…
Airmu
Tak akan mampu melunturkan tulisan
Sukaku padanya
Padamu langit
Perintahkan awanmu
Memahat namanya
Biar dunia tau
Kalau aku suka dia
Padamu gerhana
Perintahkan bulan bersenggama
Dan…
Gelapkan dunia
Biar manusia terbuta
Tapi…
Kupastikan padamu gerhana
Aku punya lentera rasa
Untuk meneranginya menuju nirwana
Kepadamu waktu
Aku menantangmu
Untuk memaksaku melupakan dia
Tapi…
Kupastikan padamu
Penguasa masa
Bahwa hari-harimu
Tak akan mampu merayuku
Untuk berhenti menata usia suka

(Un)tittled

Aku ludahi langit
Aku ibarat ilalang
Aku relakan semua untuk sebuah dongeng cinta
Terbang tak berbatas
Mencari tak menanti
Keyakinan tak diyakini
Karena keyakinanku adalah kelancangan
Karang tak selalu tegar
Bukit tak selalu berkabut
Dosa adalah alpa, aku adalah nista
Tapi aku punya cinta
Menyakitimu adalah meludahi bidadari
Sayang padamu adalah menggauli diri
Rindu padamu adalah siksa
Bersamamu adalah nirwana
Sayang padamu bukan dosa
Suka padamu adalah nyata
Harap maafmu adalah aku