Assalammualaikum wr. wb.
Dear Mama dan Papa yang paling Icha sayang…
(serius lho, meskipun pada kenyataannya Icha paling sering perang mulut sama Mama dan Papa)
Mungkin lebaran ini punya nuansa yang agak beda, karena Icha ngak merayakannya bersama keluarga. Namun, ini bukan lebaran yang pertama yang Mama – Papa lalui tanpa Icha. Pas Icha ke Swiss dulu, kondisinya juga seperti ini. Semoga, lebaran tahun depan Icha bisa merayakannya bersama keluarga, dan semoga, Icha punya kewajiban pulang pada saat lebaran hanya tersisa dua kali lagi (Insya Allah, Icha pengen lulus dalam 4 semester ke depan).

Icha juga minta maaf, karena tidak membelikan Mama dan Papa hadiah lebaran. Uang yang Papa kirim bulan November ini sudah habis Rp 499.100,- untuk membeli hadiah lebaran (maaf Pa, ini menjawab keheranan Papa kenapa setiap kirim uang habisnya cepat). Tapi Icha senang bisa jadi “Sinterklas Cilik” yang kerjaannya bagi – bagi hadiah…

Ada yang terasa hilang dari jarak yang berjauhan, Aceh – Yogyakarta. Saat – saat berkumpul ketika ada pemadaman listrik bergilir, ketika Mama masakin masakan kesukaan Icha (segala sesuatu yang bahan dasar udang, rendang dan gulee plik u) yang pasti “bebas penyedap rasa”, peganan sore kayak mie rebus sebagai antisipasi hobi kami yang suka jajan di luar, sampai pisang sebagai buah setia… Apalagi saat sakit, yang sekarang harus Icha hadapi sendiri. Atau juga saat Papa melotot karena kami lebih suka melahap habis makanan yang terhidang di atas meja pada saat buka, dibanding break sebentar untuk menunaikan shalat maghrib.

Icha ngak mau memperpanjang kalimat pembuka, karena sesungguhnya tujuan icha nulis surat ini adalah sebagai ucapan terima kasih (yang tertunda) dan juga beberapa permintaan maaf…
1) Ketika Icha kelas 2 MTsN dulu Icha pernah punya hubungan pacaran sama Firdaus yang Icha sembunyikan dari Mama… Tapi hubungan itu cuma bertahan 6 bulan, dan berakhir pada saat dia baru menempuh 3 bulan masa pendidikan di SPN Seulawah. Maaf ya Ma, Pa, Icha menyembunyikan tentang hal ini dari Mama dan Papa. Mama malah mengetahui tentang hal ini dari orang lain… Tapi jangan khawatir, setelah itu dan hingga saat ini, Icha ngak pernah pacaran. Beberapa kedekatan Icha dengan laki – laki, seperti B’Tandi misalnya, hanya hubungan persahabatan biasa.

2) Icha pernah ikut ekspedisi kecil ke Sabang, Maret 2000 lalu. Saat itu Icha bilang ke Mama, bahwa seorang teman perempuan bernama Kiki juga ikut, sehingga Mama mengizinkan Icha ikut ekspedisi. Padahal, Icha satu – satunya cewek di tim yang terdiri dari 7 orang. Penjelasannya begini Ma, sampai Icha “berani” bohongin Mama. Icha masuk ke PALASTIG tahun 1999, dan status Icha saat itu hanya anggota muda. Untuk menjadi anggota penuh, seorang anggota muda harus menggarap ekspedisi dimana dia terlibat 100% dalam persiapan – persiapannya. Mama ngak lupa kan, Agustus 2000 Icha berangkat ke Swiss. Dan saat itu Icha cuma punya pilihan “harus menggarap ekpedisi pada Libur Cawu II kelas 2”, dengan pilihan – pilihan sulit:
– Cuma itu waktu libur yang tersisa bagi Icha untuk menggarap ekspedisi, sedangkan jika Icha menggarap ekspedisi pada libur Cawu III, waktunya sudah sangat dekat ke persiapan berangkat ke Swiss
– Icha sudah harus berstatus anggota penuh pada saat itu. Karna pada saat pulang dari Swiss tahun 2001, Icha sudah duduk di kelas 3, dan energi yang ada harus lebih Icha fokuskan pada Ebtanas dan SPMB 2002
– Jika hingga lulus SMU Icha masih berstatus anggota muda, maka tidak ada pilihan lain selain “Icha dikeluarkan dari PALASTIG”. Dan Icha ngak mau hal itu terjadi karena Icha sudah berjuang keras agar bisa menjadi anggota, Icha bahkan sampai perang sama Mama dan Papa karena hal ini.

Maaf Ma, Icha benar – benar ngak punya pilihan. Karena syarat yang Mama ajukan ngak ada nilai kompromi dengan situasi sulit yang Icha hadapi saat itu. Sehingga Icha memutuskan untuk membohongi Mama. Icha benar – benar menyesal atas hal ini, dan Icha sungguh – sungguh meminta maaf…

3) Ada beberapa pertengkaran kita yang Icha yakin udah menyakiti hati Mama dan Papa, seperti ketika Icha memutuskan untuk bergabung di PALASTIG, kerja di La KASSPIA, dan kuliah di HI UMY. Maaf Ma, Pa, Icha hanya berpikir, Icha berhak mendapatkan hal – hal yang menurut Icha terbaik buat Icha. Dan Icha akan berjuang keras untuk menggapai hal tersebut. Icha minta maaf kalau ternyata pilihan ini tidak sesuai dengan keinginan Mama dan Papa, dan kita jadi sering menghabiskan energi untuk perang karena benturan dua keinginan kita ini. Icha berpikir kalo sekarang kita udah sama – sama lebih bisa mengkomunikasikan apa yang menjadi keinginan kita, sehingga benturan – benturan yang menggiring ke arah pertengkaran, bisa kita hindari. Semoga…

4) Ini sesuatu yang seharusnya sudah Icha ucapkan dari Agustus 2000 lalu. Terima kasih atas semangat, dukungan, kesempatan dan kepercayaan yang telah Mama Papa berikan ke Icha sewaktu Icha mengikuti program pertukaran pelajar ke Swiss dulu. Tidak ada yang lebih berarti selain kesempatan yang Mama Papa berikan sehingga Icha bisa mempunyai bekal pengalaman antarbudaya.

Mungkin masih banyak pertengkaran lain yang seharusnya Icha jelaskan disini, juga ucapan terima kasih yang seharusnya udah Icha ucapkan dari dulu… Tapi Icha yakin, yang sedikit ini Insya Allah berguna bagi bentuk hubungan orangtua – anak ke depan. Icha sadar, pertengkaran menghabiskan banyak energi dan menimbulkan dosa, kadangkala juga menimbulkan kebencian temporer. Dan membuka diri serta membangun komunikasi yang lebih baik, lebih berguna untuk menghindari perang diantara kita. Terakhir, Icha sangat berterima kasih atas dukungan yang selalu Mama Papa berikan ke Icha, bahkan terhadap pilihan Icha yang menurut Icha adalah hal – hal yang terbaik buat Icha, yang berbenturan dengan keinginan Mama dan Papa. Icha percaya bahwa orang senantiasa mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang berbeda, dan Icha percaya cara seperti ini juga ekspresi dari kasih sayang Mama dan Papa ke Icha.

Insya Allah Icha akan berada di Aceh kembali dua tahun ke depan. Icha ingin segera menjadi “pelayan masyarakat” dan segera membangun Aceh dengan ilmu yang Icha punya. Saat ini Icha lagi rajin baca – baca skripsi sebagai bahan perbandingan untuk calon skripsi Icha.

Ohya, beberapa waktu lalu organisasi Icha yang bernama Bungong Society sukses menggelar acara Festival Film Aceh selama 3 hari. Icha menjabat sebagai Sekretaris Umum di Bungong, sedangkan di kepanitiaan acara sebagai Koordinator Unit Kerja Produksi. Ada 8 film yang kami putar, yaitu Desaku di Ufuk Barat, Penyair dari Negeri Linge, Ceh Kucak Gayo, Abrakadabra!, Puisi Tak Terkuburkan, Tjoet Nja’ Dhien, Perempuan di Wilayah Konflik, dan Pena – Pena Patah. Alhamdulillah, seluruh keuntungan dari acara ini sebesar Rp 3.650.000,- kami sumbangkan kepada anak – anak sekolah di Aceh dalam bentuk buku bacaan.
Wassalammualaikum wr. wb.

Mirisa Hasfaria