Pertanyaan “Will you marry me?” telah mengusik saya tiga kali. Pertama, pada 9 Februari 2002 (ketika saya bahkan belum menempuh Ujian Akhir Nasional SMU). Selanjutnya pada 9 Februari 2003, dan 8 September 2004. Saya tidak terlalu memusingkan bahwa ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, saya baru berusia 19, 20 dan 21 tahun. Pertanyaan yang tak seharusnya muncul pada saat ada begitu banyak mimpi menanti untuk diwujudkan menjadi kenyataan, dan ada banyak kesempatan untuk mengaktualisasikan diri.

Saya lebih memaknai pertanyaan tersebut melecehkan karena menggugat keinginan saya untuk tidak menikah. Menurut saya, menikah atau tidak adalah hak setiap individu. Dan, saya berhak untuk memilih menjalani hidup sebagai sosok yang bebas, tanpa embel-embel istri, menantu atau anak perempuan, yang selalu melekat di diri setiap perempuan, sebagai refleksi kepemilikan diri yang harus dibagi dengan sosok superior bernama laki-laki.

Ada beberapa argumen lain yang saya bangun berkaitan dengan ini. Pertama, saya menentang pembagian kerja berdasarkan seks, -hal ini timbul sebagai konsekuensi dari menikah, red.- yang mengharuskan perempuan bertugas untuk melahirkan dan merawat anak, serta mengurus suami dan rumah tangga. Sedangkan tanggung jawab finansial dan fungsi pengaturan ekonomis, secara dominan menjadi pekerjaan laki-laki. Realitas dan klasifikasi ini menghasilkan ketergantungan perempuan secara ekonomis terhadap laki-laki. Pada hakekatnya, ini menjadi alasan kedua saya, job descriptions yang seperti ini tidak hanya melemahkan perempuan secara ekonomis dan politis serta menyediakan sebuah model bagi devaluasi aktivitas perempuan di wilayah domestik, politik, ekonomi dan budaya, namun juga mendegradasikan perempuan secara seksual dan kultural.

Ketiga, saya berhak untuk memilih tetap menggunakan nama MIRISA HASFARIA seumur hidup saya, mendapatkan identitas dan eksistensi diri karena saya menjalani hidup dengan pencapaian-pencapaian terbaik dalam pendidikan, karier, dan self actualization. Bukan karena saya berpasangan (khususnya menikah) dan mempunyai anak untuk kemudian menjadi second class citizen yang hanya bermain di wilayah domestik sebagaimana dikonstruksi oleh kerangka berpikir dan bertindak budaya patriarki.

Dalam perspektif feminisme postmodernis, gender, baik sebagai konstruksi sosial yang berlawanan dengan determinasi biologis maupun sebagai konstruksi sosial apa saja yang melibatkan pembedaan laki-laki dan perempuan, tidak memiliki makna yang tetap. Feminitas dan maskulinitas adalah sesuatu yang dikonstruks secara sosial dan merupakan situs perjuangan politik tentang makna. Makna atau lebih tepatnya pemaknaan dilakukan dengan menyepadankan feminitas sebagai “menjadi pasif dan pengasuh”, sedangkan maskulinitas adalah “mendominasi”.

Lebih jauh, menjadi dominan diterjemahkan sebagai kepemilikan terhadap modal manusia yang lebih besar, yakni; keterampilan profesional, tingkat pendidikan, kesukaan untuk meneruskan karier tanpa terhambat oleh melahirkan atau proses pengasuhan anak. Sedangkan menjadi pasif dan pengasuh diterjemahkan sebagai tugas maha mulia untuk perempuan; memerankan scola matterna (pengasuhan anak oleh ibu yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia).

Keempat, saya yakin dengan “Personal Power” yang saya miliki (sebagaimana tersebut di bawah, red), saya akan bertahan sebagai MIRISA HASFARIA;
1.Integrity – hidup dengan norma-norma kebenaran dan moral yang sangat saya percayai
2.Honesty – kejujuran
3.Faith – kepercayaan terhadap Tuhan yang membuat saya lebih kuat dari apapun juga
4.Morality – prinsip-prinsip moral adalah yang membedakan kebaikan dan kejahatan, sehingga saya selalu tahu mana yang benar dan mana yang salah
5.Values – nilai-nilai yang saya anut sejak kecil dan akan selalu saya pegang teguh hingga kehidupan berakhir
6.Courage – keberanian untuk mengenali dan mengakui kekurangan dan kelebihan diri sendiri
So, why do you think that I need men then? You’d better put them on the garbage!