Teman!, dini hari 11 Juni 2005, bunyi khas dering SMS dari HP hasil pinjaman dari ibuku terdengar nyaring. Memecah suasana senyap di kost-anku. Membuyarkan penasaranku tentang soal-soal Kimia Fisika yang sedang ku kerjakan. Berdebar hatiku ketika membuka inbox SMS. Muncul sebuah nama yang selalu membuatku berdebar jika membaca SMS ataupun sedang berdiskusi dengannya. Aku menuliskan nama “Kwarsa” untuk mengenalinya. Debaran hatiku berlanjut dengan degup jantung yang semakin keras. Ketika membaca bunyi SMS darinya: “ Abg, aku kangen kakak”. Aku terhenyak. Aku tak mengerti harus menuliskan kata-kata yang tepat untuk membalas sms itu. Tapi aku begitu yakin bahwa dia sedang membutuhkan seorang teman untuk tempat berbagi. Aku mencoba menyelami secara lebih dalam hakikat kata-kata itu.

Teman!, Kwarsa yang aku kenal adalah seorang gadis yang tak pernah mau “dianggap” sebagai gadis. Dia tak mau disamakan dengan gadis pada umumnya yang memaksa diri untuk selalu tampil feminim. Dia memang berbeda. Prinsipnya, konsistensi sikap, pilihan hidup, penampilan, gaya bicara, cara memandang masalah, dan menyikapi semua persoalan, selalu berbeda dengan orang kebanyakan. Dia sering mengatasi masalah dengan “caranya” sendiri, yang kadang-kadang aku tak pernah berpikir bahwa dia mampu melakukannya. Tapi bagiku Kwarsa tetaplah seorang gadis, karena dia memang dilahirkan seperti itu dan aku tak pernah menggugat dia untuk menjadi seperti gadis kebanyakan, selain itu aku juga tak punya hak apa-apa untuk memintanya menjadi demikian. Dalam pikiranku, biarlah dia menjadi seperti itu, karena seperti itulah ALLAH menciptakan, sebuah mahakarya yang luar biasa.

Teman!, Kwarsa bagiku lebih dari sekedar kawan tempat bercanda, partner dalam berbagai kegiatan dan lawan dalam berdebat, dia seperti adikku. Dan tentu saja aku begitu sayang padanya!.Aku tak pernah memusingkan jika ada kata-kata yang keluar dari mulutnya yang bernada mengejekku. Karena aku tahu dia tak bermaksud demikian.   

Teman!, aku bisa merasakan kesedihan Kwarsa dalam kalimat singkat SMS-nya. Aku bisa merasakan betapa dia merasa kehilangan akan kakak kandungnya yang tercinta, Ayah dan dua orang adiknya. Andai akupun mengalami hal seperti itu, belum tentu aku bisa memikul deritanya. Aku harus berpikir cepat untuk menjawab SMS itu, dan inilah jawabanku : “adk,..kak(…) sudah merasa tenang, dan abg yakin Ia juga kangen padamu, doakan dalam solat malammu(abg juga) agar semua amalan Papa, Kak(…), (…) dan (…) diterima Allah.” Aku sendiri tak mengerti apa kalimatku cukup ampuh buat menjawab keresahan hatinya. Harapanku paling tidak dengan kalimat-kalimatku tadi dia punya teman buat berbagi. Aku tahu kalimat tadi takkan menyelesaikan persoalan, namun Kwarsa tak boleh merasakan derita ini yang dialami secara berkepanjangan. Seiring waktu berjalan, dia harus bisa tegar bak karang di tengah lautan. Dan aku yakin dia pasti bisa.

Tapi….selang 10 menit kemudian, HP-ku berdering lagi dan SMS balasan rupanya dari Kwarsa. Aku membacanya, “ Kwarsa ngak tau bang, membenci Allah krn kasih sayangnya yang kejam ini, ato menerima smuanya dgn kesabaran seorang hamba bahwa ini yang terbaik. Ini kesakitan luar biasa”.  

Teman!, aku kembali terhenyak sejenak. Pikiranku kacau. Bahasa yang digunakannya sungguh luar biasa. Aku yakin hatinya sedang berbicara. Ya Allah, aku harus membalas apa?, gumamku dalam hati.  

Teman!, aku bukanlah seorang yang alim dan berilmu tinggi, bukan pula seorang yang sangat taat beragama dan ahli ibadah. Juga bukan pula orang yang sangat fasih membaca Quran dan hadist, apalagi sampai mengerti segala tafsir para imam-imam besar dari Timur tengah.  

Teman!, malam ini aku menuliskan ini buat Kwarsa, adikku, sahabatku, partnerku, orang yang selalu menimbulkan misteri bagiku.

Inilah sebuah keyakinan. Ketika kita mengucapkan “Asyhadualla ilaaha illallah, waasyhaduanna muhammadar rasulullah”. Maka ucapan itu adalah bentuk ijab qabul antara seorang manusia dengan sang khaliknya. Saat itu juga dia adalah seorang yang mukmin, percaya hanya kepada Allah sebagai tuhannya.   

Inilah inti ketauhidan dalam Islam. Ketika semua urusan diserahkan hanya kepada Allah, ketika semua aturan yang berlaku dikembalikan kepada Allah, maka manusia hanya punya hak untuk menerima dan bukan mengaturnya. Ketika semua urusan telah diserahkan kepada Allah, maka fungsi kita sebagai manusia adalah menjalankan aturannya saja. Dan sekali lagi, kita sudah yakin apapun yang terjadi adalah atas kehendaknya sebagai Tuhan kita.

Jika kita meyakini ALLAH sebagai tuhan kita, maka konsekuensinya dia adalah Raja di raja seluruh alam termasuk diri kita. Karena dia yang menciptakan segalanya. Ambil contoh dengan pabrik motor Honda, atau Yamaha, atau pabrik apapun yang mempunyai produk. Honda paling mengetahui motor produk keluarannya, tapi dia takkan lebih mengerti tentang kelebihan dan kekurangan motor produk keluaran Yamaha. Ini artinya, sebagai “empunya” produk motor, Honda bertanggung jawab terhadap segala keunggulan dan berkewajiban memberi tahu segala kekurangan dan cara mengatasi bila terjadi kerusakan pada produk keluaran Honda. Singkat kata, buat Supra, Grand, Tiger dsb. Hondalah yang paling mengerti tentang mereka.      

Logika ini memang belum cukup jika kita komparasikan hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhan-nya. Namun secara sederhana logika itu menjawab: Kalau di dunia saja orang hanya mengerti yang diciptakannya, tentulah ALLAH jauh lebih mengerti apa dan bagaimana suatu keadaan yang akan diberikan buat hambanya. Dan Al-Quran menjadi petunjuk untuk memperbaiki segala keadaan yang di luar jalur sebenarnya1.  

Masih ingat cerita pertemuan antara Nabi Khaidir dan Nabi Musa?Ketika itu, Musa begitu menyesali 3 tindakan Khaidir  yang menurut Musa sangat bertentangan dengan apa yang dia ketahui. Khaidir melubangi perahu yang dia tumpangi bersama Musa, kemudian dia membunuh seorang anak kecil, dan yang terakhir dia merobohkan sebuah rumah. Musa memprotes keras tindakan Khaidir yang sangat bertentangan dengan pengetahuannya sebagai seorang Rasul yang selalu menyuruh orang lain berbuat baik. Saat itu Musa tidak mengetahui, bahwa hikmah di balik semua itu adalah; Kalau perahu tidak di lubangi, maka perahu itu akan direbut oleh para perompak untuk merampok harta para nelayan yang ada di daerah itu. Jika Khaidir tidak membunuh anak kecil, kelak ketika dewasa anak itu akan menjadi seorang pendurhaka yang membunuh orang tuanya sendiri. Yang terakhir, jika rumah tidak dirobohkan, kelak akan terjadi sengketa antara keturunan pemilik rumah, sebab rumah dibangun di atas tanah yang sudah di wakafkan.  

Seandainya hikmah datang lebih dulu, tentu manusia tak perlu repot untuk mencari jawaban atas kuasa Allah yang datang pada dirinya. Justru karena hikmah yang datang kemudian, menunjukkan bahwa Allah lah yang paling mengerti akan kebaikan untuk setiap hambanya2.   

Ketika Allah mengambil dari diri kita, Dia akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Sabar adalah sikap terbaik seraya tak henti untuk berharap akan segara mendapatkan penggantinya. Rasulullah saw. bersabda di suatu kesempatan: Siapapun yang kehilangan orang yang dicintainya di dunia ini dan kemudian dia mencari gantinya dari Tuhannya, maka ia akan mendapatkan surga sebagai gantinya. Jika kita yang ditimpa musibah di dunia ini dan tetap kepada Allah, maka akan mendapatkan penghormatan dengan ditempatkan dirinya di tempat tertinggi di surga3.    

Teman!, aku juga yakin kalau keyakinan kepada ALLAH begitu kuat, maka hidup tak lebih hanya sekedar sandiwara belaka. Kita hanya merasakan berperan sebagai seseorang dalam suatu film atau pementasan theatre. Toh, kehidupan sebenarnya ada setelah hari berbangkit tiba, yang saat itu manusia tak akan pernah mati, abadi selamanya. Hidup di dunia hanya untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang lebih panjang nantinya4. Karenanya sikap kerelaan hanya kepada Allah membuat hidup punya orientasi yang jelas. Sebuah sandiwara atau film akan berakhir seiring waktu berjalan, hanya saja kita tak pernah diberi tahu kapan dan dimana akan akan berakhirnya.      

Kepada Kwarsa aku berharap, kedewasaan yang selama ini terlihat padanya, akan membuatnya bisa tegar menghadapi skenario apapun sang sutradara (Allah – red). Sejatinya, dia tak kehilangan orang-orang yang dicintainya, hanya saja sekarang terpisah dalam jarak yang begitu jauh. Toh, Kwarsa tetap bisa berkomunikasi melalui bisikan hati yang aku yakin selalu berbicara padanya. Aku juga berharap, bahwa Kwarsa dan orang yang dicintainya akan dipertemukan lagi oleh sutradara, mungkin saja dalam episode dan alur cerita yang lain.   

Akupun yakin kwarsa tahu, bahwa dulu, pejuang-pejuang Aceh, seperti Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Panglima Polem, Cut Meutia dan lainnya, selain strategi perang yang mereka kuasai, keyakinan terhadap pertolongan Allah adalah hal yang utama ada dalam diri mereka dalam menghadapi kaphe belanda5

Pogung Rejo, 10 Juni 2005 

Written By: Rifa Syahza 

“I DEDICATED THIS PAPER TO MY BELOVED SISTER, MIRISA HASFARIA. Always hope that she could make her dreams come true, like she has ever told me”

1). Q.S. Al-Furqaan:1, Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.  2). Lihat Wawasan Al-Quran, M. Quraish Shihab, hal 59. Muawiyah bin Abu Sufyan, Khalifah setelah Ali bin Abi Thalib, mengirim surat kepada Al-Mughirah bin Syu’bah. Ia menanyakan:”apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai shalat?. Al-Mughirah menjawab:”Doa Nabi Adalah: Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Wahai Allah tidak ada yang mampu memberi apa yang engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR. Bukhari).  3). Selengkapnya lihat Don’t Be Sad,Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih dan Frustasi, karya DR. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA. Hal.53-54. 4). Q.S. Adh-Dhuha: 4, Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. 5). Q.S. An-Nashr:1, Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.