Icha yang baik… 

Ini adalah surat atau coretan atau apalah namanya? Dalam hal ini, aku mungkin setuju dengan Shakespeare tentang ‘apa arti sebuah nama’? Yang pasti ini aku tulis untuk sebuah harapan. Apakah itu? Icha bersedia membacanya, itulah harapanku. Aku bisa saja menelpon kamu atau minta waktu ketemu kamu untuk berbicara panjang lebar tentang apapun. Tentang dirimu, tentang diriku, tentang hidup ini, tentang kehidupan ini, atau tentang apapun seperti pembicaraan kita selama ini. Akan tetapi aku ingin menulis sesuatu untukmu dengan sebuah mimpi tentang keabadian. Walau aku tahu itu suatu hal yang mustahal, karena dunia ini adalah fana. Bagiku mimpi itu adalah sesuatu hal yang tidak sepele. Sesuatu yang sepele atau bahkan yang remeh temeh pun dapat membawa kebahagiaan. Seperti ketika aku menyaksikan tetes demi tetes embun yang jatuh dari daun pohon pisang di pagi yang cerah di belakang rumahku yang sudah mulai lelah menemani penghuninya. Pohon pisang dan rumah kecil yang selalu tersenyum simpul ketika menyambut kedatangan para penghuninya. Pohon pisang dan rumah kecil yang selalu menahan air mata dan mendendangkan kidung doa ketika melepas para penghuninya mengejar mimpi. Sesuatu yang semakin jarang aku dapatkan. Sama halnya dengan menulis surat, sesuatu yang sudah lama tidak aku lakukan.

Surat ini adalah yang pertama kutuliskan untukmu. Surat ini aku tulis di pinggir Sungai […] yang sedang bermuram durja oleh ulah manusia yang dengan seenaknya membuang sampah industri ke urat nadinya, sehingga air itu tidak lagi dapat melenggang, bak Karenina yang sedang berjalan di atas catwalk. […], Musi, Ciliwung dan sungai-sungai lainnya, jalanmu kini terseok dan ikan Gabus itupun meninggalkanmu tanpa permisi apalagi farewell party. Emperanmu juga sudah mulai tidak menyediakan tempat dimana mimpi dan harapan itu hadir. Karena gubuk dan ‘kastil’ yang terbuat dari kardus itu telah porak poranda oleh beghoe dan kekarnya tangan para petugas Tramtib. Gubuk dan kastil itu lenyap oleh penggusuran atas nama pembangunan. Dus, lenyap pula mimpi dan harapan akan hari esok itu. Tapi kau tetap sungaiku. Karena kau tetap setia menerima keluh kesahku dan masih bersedia melarung semua persoalanku. Sungaiku… oh sungaiku… marahlah!! Bantulah yang tergusur. Janganlah kamu mau menampung air hujan, biar mereka yang rakus tergopoh-gopoh menyambut kedatanganmu yang tanpa diundang. Pasti kamu akan tetap mengalir dari dataran yang tinggi ke dataran yang lebih rendah. Dan berjanjilah pada kami, para tergusur,bahwa kamu pasti akan bersedia menghantam rumah-rumah mewah yang serakah, yang dibangun di atas cucuran air mata kami.

Emperan sungai, tempat dimana aku sering memikirkan dirimu. Apakah kamu sedang membaca buku-buku kesayanganmu? Apakah kamu sedang mengirim short messages service lewat ponselmu kepada teman dan keluargamu? Ataukah kamu sedang bergelut dengan belantara jalanan yang padat oleh pengendara? Apakah kamu sedang membikin secangkir kopi untuk seorang tamu yang datang di kostmu? Apakah kamu sedang berusaha untuk menghindar dari bayangan manusia yang tidak kamu senangi? Yang pasti semoga kamu masih tetap seperti kemarin hari. Icha yang ceria, menyapa siapa saja dan sedikit keras kepala, tapi aku suka! Bagai kuda liar di tengah savanna yang tegar dan tak mau menyerah untuk mewujudkan mau hatinya. Seorang perempuan yang tetap bersikeras untuk disebut dan diposisikan sebagai seorang ‘cowok’, sesuatu yang janggal, tapi menarik! Orang muda dengan segudang talent. Anak muda yang simple tapi tidak minimalis, tegas dan kadang hitam-putih, smart, modern dan terkesan city-look bagaikan rancangan busananya Donna Karan. Seorang yang tidak mudah untuk didefinisikan, unpredictable dan unik. Mengingatkanku akan jazz music yang selalu menimbulkan perdebatan panjang ketika hendak didefinisikan. Sehingga mengakibatkan kendala, ketika hendak diambil kesimpulan. Tetapi dari pengertian yang sangat beragam itu, aku sangat tertarik dengan kalimat yang pernah ditulis oleh Fordham[1]: “ketika penulis F. Scott Fitzgerald menyatakan datangnya abad jazz pada tahun ’20-an, ia maksudkan kata ‘jazz’ untuk menjabarkan suatu sikap. Anda tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya…”. Jadi kita tidak usah terlalu repot-repot dalam memahami apa itu jazz, yang penting kita dengar saja musiknya, rasa yang ditularkannya, emosi yang diteriakkan dan jeritan yang dilengkingkan oleh penyanyinya. Terkadang seperi itulah kamu selama ini. Jadi, jangan salahkan saya, ketika aku temukan rasa dan gemuruh dirimu dalam jazz. Itulah uniknya jazz dan uniknya dirimu, yang baru dapat ditemukan dalam sesuatu yang unik pula. Cita-citamu untuk menjadi pelayan masyarakat, sungguh sebuah cita-cita yang begitu mulia. Demikian halnya dengan jazz yang lahir dari sebuah ekspresi para budak, yang terbelenggu oleh rantai yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya. Yaitu rantai perbudakan. Mereka bernyanyi, akan tetapi menyanyi tidaklah dapat menjadikan mereka terbebas dari perbudakan. Namun tiada rantai atau seorang pun yang dapat menghalangi mereka untuk menyanyi. Itulah hakekat jazz: Pembebasan Jiwa. Demikian halnya dirimu siapakah yang dapat menghentikanmu ketika kamu sudah mengeluarkan jurus ‘anteng aja’? Bukan itu, tetapi apa yang kamu lakukan sama dengan apa yang diinginkan para budak itu, terbebasnya masyarakat dari belenggunya.

Icha yang pemberani… 

Aku masih ingat dengan jelas tentang pertemuan kita untuk yang pertama kalinya. Jalan […] di kota […], posko aksi menentang agresi milliter Amerika Serikat dan sekutunya ke Iraq (negeri 1001 malam), suara megaphone yang sedang bertarung dengan deru kendaraan yang dipacu, terik mentari tengah hari, baju dan celana jeans serta jilbabmu yang serba putih – La creatura bella blanco vestita (Hugo:1831) -, secara serempak tanpa dikomando telah mengiringi dan seolah menjadi saksi akan pertemuan itu. Tidak ada yang terlalu istimewa, biasa tapi tidak seperti biasanya. Di saat kukenalan dengan orang-orang baru sebelumnya. Seorang gadis muda dari tanah Rencong yang sedang kuliah di Jurusan Hubungan Internasional sebuah kampus swasta di kota ini datang ke aksi demonstrasi, mengenalkan diri dengan nama Icha, membuka percakapan dengan materi percakapan ‘berat’ yang tidak cukup lazim dilakukan oleh seorang perempuan muda. Bahkan terkesan ceplas ceplos, dengan membandingkan atau menganggap aku mirip dengan tokoh cerita Betawi yang sedang ditayangkan di TV dalam bentuk sinetron, aku lupa nama tokoh itu. Setelah kau meninggalkan posko itu, kesan yang pertama muncul dari benakku adalah kau seorang yang pemberani dan unik. Jujur dalam hati kecilku muncul harapan agar dapat ketemu kamu lagi untuk melanjutkan diskusi yang singkat ini. Aku tidak tahu mengapa keinginan itu hadir dengan cepat, seiring dengan langkah kakimu yang semakin cepat dan semakin menjauh. Kepergianmu dengan sendirinya juga telah mengubur harapan itu, karena aku tidak tahu alamat kostmu, alamat electronic mail-mu dan nomor teleponmu. Hanya keberuntunganlah yang akan mempertemukan diriku dengan dirimu. Begitulah memang pertemuan itu, di jalanan diiringi sumpah serapah dan peluh dalam semesta yang penuh dengan rintihan oleh kejamnya modal. Kemudian waktu kembali tak tercatat, mengalir tapi tidak pernah liar dan berjalan tapi tak jalang. Tak ada pertemuan, apalagi percakapan. Yang ada hanya bisikan seolah saling merasa tapi kita berada dalam ruang yang terpetak dan tidak ada pintu penghubungnya.

Sekali lagi tentang […], yang kata banyak orang begitu eksotis dan romantik. Membuat orang berniat untuk suatu ketika kembali setelah terbang jauh nan tinggi. Rindu pada kokohnya benteng […], padatnya […] yang begitu familiar, suasana senja Pantai […], dinginnya […] oleh rintik air hujan yang selalu menyapa, pada cerita-cerita di kampus yang tak akan habis sampai akhir hayat, pada kentalnya teh yang menjadi menu di setiap warung […] dan manisnya […] yang selalu menghantar obrolan malam. Aku harus berterima kasih pada malam, dimana cahaya kota berubah menjadi keemasan oleh bertemunya rembulan dan lampu kota. Cahaya keemasan yang menerpa wajahmu di tengah kerumunan para pengunjung road show-nya Jakarta International Film Festival (JiFFest) – yang singgah di […] – telah membuat wajahmu bagai lempengan emas berbalut kain jilbab. Sehingga aku dapat dengan mudah menangkap bayanganmu dan menyapamu. Sebuah keberuntungan itupun telah datang dan ternyata kamu masih mengenaliku, walau agak ragu. Pertemuan itu bagai bertemunya cahaya rembulan dan lampu kota yang malu-malu. Pertemuan dimana waktu mungkin sedang tidak ingin singgah di hadapan kita. Begitu singkat tapi penuh harap. Tak pasti, apa akan datang kembali? Atau bahkan semakin menjauh, dan akhirnya pergi bersama dengan mulai berputarnya roda-roda motor yang menghantarku pada pertemuan malam itu. Walau aku pun tahu kamu akan datang kembali pada pertunjukan esok hari. Dan kedatanganku pada pertunjukan esok hari sebenarnya untuk sebuah harapan. Sebuah Pertemuan!

Icha yang selalu tersenyum riang… 

Aku tidak mengerti, mengapa selalu berharap datangnya pertemuan? Mungkin tidak berbeda jauh dengan ketika aku harus memberikan jawaban atas pertanyaan: ‘mengapa harus ada pertemuan’? Apakah sudah tidak basi lagi, ketika aku menjawabnya dengan: ‘karena ada perpisahan’. Yang pasti pertemuan-pertemuan yang telah kita lewati –entah singkat, entah lama, baik dengan jamuan atau tanpa jamuan– telah membuat harapan baru akan datangnya pertemuan. Aku harus mengakui dengan jujur, bahwa pertemuan ini begitu berharga. Karena kehadiranmu telah membuat kehidupan ini kembali berwarna dan bermakna. Setelah sekian lama hambar dan monoton oleh bertumpuknya aktifitasku selama ini. Kehadiranmu juga telah mengingatkan diriku akan pentingnya menyiram keringnya perasaan ini. Pikiran dan perasaanku semakin tidak menentu ketika pertemuan demi pertemuan itu hadir. Dan waktu ternyata adalah pemberi jawaban yang paling jujur. Jawabannya tersebut adalah: “telah datang seorang perempuan yang benar-benar kucintai”. Sebuah keinginan akan pertemuan itulah buktinya dan itu pulalah yang pernah mengganggumu. Sehingga kau mengirimi short messages service kepadaku mengenai keberatanmu akan permintaan-permintaanku untuk selalu ketemu. Aku mungkin sudah tidak bisa menjelaskan hal itu secara rasional. Dan kau juga pernah bertanya pula tentang: ‘seperti apakah aku menganggap kamu selama ini’? Yang waktu itu aku belum siap memberikan jawaban yang jujur dan detail. Mungkin lewat coretan ini adalah tepat untuk mengatakannya. Pertama, Aku menganggap Icha sebagai seorang kawan; kedua, aku juga menganggap Icha adalah seorang yang aku cintai –baik sebagai seorang kawan maupun sebagai seorang perempuan-. Dalam dirimulah aku tidak dapat menghindar dan membohongi perasaan cintaku kepada seorang perempuan. Setelah sekian lama hati ini beku. Kau adalah matahari di pagi, siang dan sore hari yang telah mencairkan bongkahan hatiku yang telah lama menjadi salju. Dan kamulah yang telah membuat diri ini untuk kembali mencintai, untuk saat yang tak dapat diakhiri.

Inilah Pengakuan dan Permohonan[2] 

Engkaulah ombak yang telah meluluh-lantakkan benteng pasirku

setelah sekian lama tertutup rapat

Engkaulah hujan yang telah mengisi pecahan-pecahan tanahku

yang telah semusim ini tidak terairi

Yang tertutup mulai terbuka dan yang pecah juga telah merekat

Inilah waktuku

Aku telah bersiap untuk mengarungi lautanmu

Ijinkan aku menyapa Teri yang menghiasimu

Bukalah pintu rumahmu,

Agar kudapat bercengkrama dengan coral-coral yang bertahta di dasar kalbumu

Dan terimalah kado cintaku

Semoga menjadi hidangan bagi kita berdua

Untuk jamuan makan malam yang abadi.

[…], 2003

Icha yang aku cintai… 

Jika kamu bertanya kepadaku: “untuk apakah Anda […] mencintaiku”? Kalau diberi kesempatan untuk menjawab, aku akan menjawab. Akan tetapi, sebelum aku menjawab, aku terlebih dahulu minta maaf apabila jawabanku terlalu sederhana. Pertama, “Untuk membantumu dalam melayani masyarakat dengan sesuatu yang mungkin berguna bagi cita-citamu untuk menjadi pelayan masyarakat. Kedua, untuk mendapatkan cinta dan kasih sayangmu yang tulus –baik sebagai laki-laki, sebagai kawan dan sebagai manusia, karena Jeder Mensch ist eine kleine Gesellschaft[3]. Aku tidak tau lagi apakah itu harapan, mimpi atau obsesi. Yang pasti seperti itu hati ini berkata. Dalam sebuah cerita, ketika Calvin Klein jatuh cinta dengan seorang wanita yang kelak menjadi istrinya. Untuk mengungkapkan rasa cintanya, Calvin Klein mebuat parfum bernama obsession. Dengan maksud, kalau tidak bisa mendapatkan wanita itu lebih baik mati. Jadi, wanita itu menjadi obsesi baginya. Aku jelas berbeda dengan Calvin Klein tetapi, ada hal yang bisa aku ambil dari cerita ini, yaitu kalau aku sudah menyatakan cinta kepada seorang perempuan, aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Berpihak kepada kepentingan masyarakatlah sesuatu yang kupersembahkan untuk mendapat cinta dan kasih sayangmu yang abadi. Agar kita dapat saling berbagi dan memberi untuk bersama-sama melayani.

Mimpi yang Nyata[4] 

Biar kebijaksanaan itu datang

Biar apresiasi itu hadir

Biar diri ini juga terlahir kembali

Dan semoga diri ini dapat diterjemahkan lagi

Di balik ribuan gambar di depan cermin yang mulai retak.

[…], 2003

Apakah Icha juga tahu? Alangkah bahagianya diriku ketika kamu bersedia menemani makan malam itu. Dan apakah Icha juga tahu? Waktuku, dimana pertemuan-pertemuan itu lahir adalah waktu yang sangat berharga karena aku petik dari lalu lalang dan padatnya agenda organisasiku. Apakah Icha juga tahu? Aku sering berharap kesempatan itu datang kembali. Mungkin kau tak pernah tahu dan mungkin juga tidak akan mau tahu tentang semua itu. Pernahkah kau tahu maksud kedatanganku ke Lembaga Indonesia Perancis di Jl. […] ketika ada acara launching majalah […] –ketika temanku nitip majalah […] untuk diberikan kepada seorang narasumber yang kebetulan dekat denganmu-. Mungkin kamu sudah lupa dengan peristiwa itu. Kamu tahu ngak? Bahwa aku datang bukan untuk menghadiri acara itu, karena sebelumnya aku juga tidak tau kalau ada launching majalah. Aku datang adalah untuk menemuimu. Dengan satu keinginan untuk mengantarmu pulang ke kostmu. Hal itu bukan hanya sekali Icha. Aku pernah menungguimu di […], di café-nya […] dengan keinginan yang masih sama, akan tetapi malam itu kamu tidak masuk kursus.

Begitulah sebenarnya perasaanku kepada dirimu, Icha. Barangkali ini adalah sebuah ‘pengakuan yang sederhana’ tetapi yakinlah bahwa perasaan cintaku kepadamu tidak sesederhana pengakuan ini. Salahkanlah dan cibirlah karena itu hakmu. Aku akan selalu berusaha untuk kembali menerjemahkanku kepadamu. Terimalah dan mari kita melangkah sampai tapal perbatasan hari, jika memang itu kata hatimu. Semoga saja kursi tunggu di Stasiun Kereta Api […] masih setia menemani para penunggu –yang sama setianya dengan kursi tunggu itu– sampai hisapan terakhir rokok kretek itu atau bahkan sampai rambut uban di kepalaku mulai tumbuh. Walau menunggu adalah sebuah hal yang membosankan dan memilukan. Sampai kita akhirnya merasa sudah tua, semoga setua dan sebijak cinta ini. Aku sudah capek memendam rasa ini, biar perasaan ini tidak lagi menggelepar seperti ikan-ikan di sungai yang tercemar zat kimiawi itu.

Inilah suratku Icha, surat seorang yang menyandarkan jiwa raganya kepada sebuah harapan, dan harapan itu adalah kamu. Aku telah menulis harapan itu, semoga tidak hilang oleh mulai berkurangnya daya ingatan kita karena datangnya usia senja. Surat ini adalah dari hati yang merasa dan diucapkan oleh jemari yang terpesona. Oleh tulus dan indahnya pengakuan. Jari ini seolah tidak kuasa bergerak lincah di atas keyboard dan wajah layar monitor juga sudah mulai bosan dengan wajahku. Masih banyak yang sebenarnya hendak kutuliskan, akan tetapi tangan ini sudah tak mampu menerjemahkan lagi. Mungkin bisa disambung oleh surat-suratku berikutnya. Sulit dan mendebarkan, surat ini kuselesaikan. Lebih mudah menulis artikel atau selebaran. Di akhir suratku ini aku hendak mengutip sebuah puisi yang pernah ditulis oleh Eva Christina Zeller[5]:

Ich liebe drei Dinge auf dieser Welt

die Sonne…

den Mond…

und Dich.

Die Sonne für den Tag…

den Mond für die Nacht

und Dich für immer.

(Saya mencintai tiga hal di dunia ini

Matahari…

Bulan…

Dan Kau…

Matahari untuk siang hari

Bulan untuk malam hari

Dan Kau untuk selamanya)

Semoga dengan iringan parfum L’eau D’Issey[6] kamu tidak bosan untuk membacanya sekali lagi. Tentang keabadian, tentang ketulusan dan penantian. Akhirnya, aku ucapkan selamat jalan dan selamat lebaran, walau tanpa parcel. Semoga perjalananmu ke Jakarta tidak membosankan. Di hari raya Idul Fitri ini, aku memohon maaf kepadamu atas salah dan khilafku. Minal Aidin wal Faidzin. Semoga kita akan hidup lebih baik. Sampai ketemu dan I LOVE YOU.

[…], 16-20 November 2003

Diri ini.

[…]


[1] John Fordham, Jazz: History, Instruments, Musicians, Recording. London: Dorling Kindersley, 1993 dalam Seno Gumira Ajidarma: Jazz, Parfum dan Insiden, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996.[2] Coretan yang kutulis pada tanggal 15 Juli 2003, pukul 01.08 WIB dan kupersembahkan untukmu seorang.[3] “setiap manusia adalah satu masyarakat kecil”. Ditulis oleh Steffan Mosses (seorang pengarang dan fotografer yang lahir di Schleisen, Jerman pada tahun 1928).[4] Aku lupa, kapan kutuliskan. Yang jelas pada medio Mei –April 2003[5] Seorang seniman dan pengamat seni fotografi yang lahir di Ulm, Jerman pada 1960. [6] Air dari Issey, parfum yang dikeluarkan oleh Issey Miyake.