Hari ini, beberapa tahun yang lalu, ingatan saya melayang pada sebuah percakapan singkat yang mengajarkan banyak hal tentang kejujuran. Saat itu, saya dan papa terdampar di sebuah taksi Blue Bird, dalam perjalanan menuju Kantor Bina Antarbudaya di bilangan Kebayoran Baru. Saya dan delapanbelas exchange student lainnya masih harus mengikuti sesi “Kehidupan Beragama di Luar Negeri” sebagai bagian dari orientasi AFS–INAYPNH’01 (Indonesia Year Program Northern Hemisphere 2001). Orientasi ini adalah sesuatu yang wajib bagi para exchange student AFS yang akan berangkat ke negara tujuan Jerman, USA, Swiss, Belgia, Belanda, dan Italia. Kesembilanbelas kami adalah mereka yang telah lulus lima tahap seleksi, yang diselenggarakan oleh Aceh, Padang, Jakarta, Bogor, Bandung, Malang, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta.

Percakapan bermula ketika kita terjebak dalam kemacetan, seluruh kendaraan hanya bisa merayap pelan. Si Bapak mulai bercerita tentang profesi supir taksi yang telah dijalaninya selama bertahun – tahun, dedikasinya kepada perusahaan Blue Bird, jabatan sebagai rohaniwan Blue Bird yang juga disandangnya, idealismenya –sesuatu yang aneh di tengah – tengah kehidupan metropolitan Jakarta yang memaksa warganya atheis terhadap nilai – nilai luhur- serta kejujurannya.

Ada banyak potret kehidupan yang disajikan ibukota Republik Indonesia ini. Anak – anak “gocap” yang meminta belas kasihan para pengemudi jalan yang berhenti di sudut – sudut lampu merah. Gelandangan yang tidur di emperan – emperan toko dengan hanya beralaskan selembar koran. Surat kabar yang menampilkan potret kekerasan khas ibukota sebagai sapaan selamat pagi untuk warga. Di Jakarta yang megah ini pula manusia dengan mudahnya mengumbar emosi, terlibat tawuran antar warga, pelajarnya yang juga melakukan hal serupa, atau ekspresi kemarahan yang diwujudkan dengan membakar copet hidup – hidup.

Beliau membuka percakapan dengan melontarkan kritik terhadap perilaku para supir taksi di Jakarta yang suka membawa penumpangnya berputar-putar sebelum sampai di tujuan, atau mengaku tidak tahu (padahal hanya berpura-pura, red.) ketika penumpang menyebutkan sebuah destinasi tertentu agar ongkos taksi yang dibayar lebih mahal. Percakapan menjadi menarik ketika beliau membuat pola kausalitas dari realita ini. Beliau bertutur, bahwa sebagai muslim, adalah sebuah kewajiban bagi bapak sebagai kepala keluarga, atau ibu yang setelah kehilangan suami memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga, untuk memberikan nafkah yang halal bagi istri dan anak-anaknya. Halal yang dimaksud disini, tentu saja dari segi jenis dan cara mendapatkan. Ketika nafkah tersebut didapatkan dari mencopet atau berprofesi sebagai PSK, tentu itu bukanlah nafkah yang halal. Namun ketika nafkah tersebut didapatkan dari bekerja sebagai supir taksi misalnya, suatu pekerjaan yang notabene diridhai ALLAH SWT, maka nafkah tersebut halal.

Sisi kedua yang perlu dipertimbangkan adalah cara mendapatkan. Meskipun seorang berprofesi sebagai supir taksi, sebuah profesi yang halal, namun mendapatkan nafkah dengan cara yang tidak halal, sebagaimana saya sebutkan di atas, tentu nafkah tersebut menjadi tidak halal. Beliau kemudian menyebutkan, bahwa nafkah tersebut ketika dibawa pulang ke rumah, tentu akan diolah menjadi makanan. (Saya tidak perlu berpanjang-panjang menjelaskan daur ini, red). Terlupakah si ayah atau sang ibu, ketika makanan ini masuk ke dalam tubuh, ia akan menjadi vitamin, mineral dan darah yang diperlukan tubuh. Sesuatu yang tidak halal telah masuk ke dalam tubuh si istri dan atau si anak, dan menjadi bagian dari tubuhnya. Tidak mengherankan, ketika bangsa ini hanya mampu menghasilkan orang-orang bermental bobrok dan mengalami dekadensi dari segi kepribadian dan moral. Karena, orang tua mereka terus menerus memberi mereka nafkah yang tidak halal.

Subhanallah, saya pribadi sangat tergugah dengan idealismenya. Tidak perlu menyebut papa, yang memang selalu mempraktekkan prinsip ini, sehingga meskipun kami hidup pas-pasan, kami semua bangga terhadap papa, karena tidak pernah mengambil hak orang lain untuk menghidupi kami. Seorang supir taksi memegang teguh prinsip kejujuran, sedangkan banyak elit politik dan pemegang kekuasaan di Indonesia tidak peduli apakah caranya menimbun harta kekayaan menyengsarakan jutaan orang lain dan menyeret mereka ke garis kemiskinan yang dalam.

Hari itu, saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan saya dengan bapak tersebut, sehingga ada lesson learned yang saya dapatkan dan memperteguh idealisme saya, selain perasaan syukur yang lain karena saya terlahir sebagai anak dari pasangan H. Amir Syarifuddin, Sm. HK dan Hj. Sri Hastuti yang memegang teguh prinsip ini, sehingga meskipun hidup serba cukup, namun tidak mendatangkan penderitaan untuk hidup orang lain.

(Specially dedicated untuk Papa, mungkin di surga, atau di belahan mana di bumi, Icha sayang Papa. Terima kasih untuk semua kasih sayang yang Papa curahkan “dengan cara lain”. Semoga kita bisa berkumpul di akhirat nanti sebagai sebuah keluarga…)