Kepada angin yang berbisik: Apa kabar Iren?

Aku berharap kedatangan sebuah dokumen Microsoft Word yang aku attach-kan di email dengan subyek “sebuah pengakuan” tidak mengusikmu terlalu dalam. Aku memulai testimoni ini dengan kalimat “sebuah pengakuan“, karena untaian kata demi kata yang tertulis di dalamnya adalah pengakuan atas segala yang pernah aku rasakan sehubungan dengan keberadaanmu dalam hari–hariku. Cerita yang bermula dari keikutsertaanku di ekstra kurikuler yang sama denganmu, Pencinta Alam SMUN 3 Banda Aceh, hingga akhirnya menganggap kehadiranmu sebagai “sesuatu yang istimewa” dalam hari-hariku selama di bangku SMU.

Apakah pengakuan ini sesuatu yang bersifat kebenaran atau segala sesuatu yang berupa pembenaran?. Entahlah, aku pun tak tahu pengakuan yang seperti apa. Aku menyerahkan hal ini sepenuhnya pada penafsiranmu. Menurutku, pengakuan ini adalah yang dapat melegakan hati dan memberikan ruang bagi perasaan lain. Pengakuan yang dapat meminimalisir rasa yang menghimpit dan menyesakkan dada. Pengakuan yang dapat merubah perspektifmu bahwa aku seorang munafik. Pengakuan yang dapat merubah hitam-putih menjadi warna warni. Pengakuan yang bisa merubah kemarau menjadi hujan.

Mungkin, terbersit pertanyaan dalam hatimu, mengapa kata “kemarau” muncul dalam barisan kalimat-kalimat yang menjelaskan tentang apa yang kurasakan saat ini?. Karena perasaan itulah yang aku rasakan saat ini. Sunyi seperti sunyinya kemarau. Sunyi kemarau, dihisapnya segala hijau. Kuncup-kuncup didorongnya kembali ke sebelum hidup, pra hidup. Bahkan ketak-boleh-hidup. Tersebut, sebuah goresan tertanggal 5 April 1999:
Ya Allah….
Terima kasih telah mengenalkanku pada bang Mahfudh. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk ngobrol dan bercanda dengannya. Terima kasih atas hari yang menyenangkan kemarin. Terima kasih karena telah memberiku pilihan. Saat aku memilih untuk merelakan Iren menjadi kekasih sahabatku, aku tahu aku akan kehilangan sebuah kebahagiaan. Tapi, aku mendapat hikmah dari “sebuah keikhlasan”. Aku yakin, ini yang terbaik yang telah Allah berikan kepadaku. Terima kasih telah memberi kembali “rasa mencintai” walaupun setelah sekian lama. Setelah Iren, kali ini aku hanya ingin mencintainya tanpa menggantung asa “dapat memiliki”. Mungkin, bait-bait puisi ini lebih dapat melukiskan asaku…….

Ilusi Bulan Pucat

Langit temaram…..
malam datang mencekam…..
semburat bayang bulan pucat
di sisi langit tak terbatas

Angin berhembus basah
cakrawala merintih resah
Bulan pucat bertanya nelangsa
Langit, apakah kekasihku telah datang ?

Bulan pucat……bulan pucat !
takkan mungkin ia mencintaimu
Langit berdendang
kau hanyalah penghias langit
sedang ia manusia yang kau jamu

Cahayamu bulan pucat…..
hanya itu yang ia butuhkan
asamu terlalu jauh…bulan pucat
mendendangkan cinta berbias kegalauan

Langit……aku hanya ingin
mengantungkan asaku setinggi horison
mencintainya hanyalah ilusi
Inilah fiksi
patah, tumbuh, bersemi, hilang berganti
aku hanya ingin mencintainya, tidak lebih

(Special dedicated to M****** at **** Banda Aceh)

Mungkin, timbul sebuah pertanyaan lain, “mengapa tidak ingin memiliki?”. Karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanyalah seorang junior yang baru bergabung di Pencinta Alam SMUN 3 Banda Aceh pada Diksar II. Siswa kelas satu yang mengenakan kacamata dan kawat gigi, yang selalu menghabiskan waktu istirahat selama limabelas menit dengan melahap buku-buku atau i’tikaf di mushalla sekolah. Seseorang yang secara fisik tidak menarik, juga tidak memiliki prestasi luar biasa di bidang akademik. Mungkin, aku tak lebih dari seonggok bulan pucat yang menghias langit di sana. Atau seorang dungu yang menanti sebuah cinta. Seberkas sinar buram, yang berusaha mencecar bayangmu, namun asaku pun tak mampu mengejarnya. Bagiku, cinta, tak harus memiliki. Apalagi ketika fakta pun tidak berpihak pada perasaanku. Diizinkan untuk tetap menyimpan perasaan dan asa ini, tanpa seorang pun yang tahu, sudah merupakan hal yang lebih dari cukup. Dibiarkan untuk tetap mengagumi sosok dan senyummu dari kejauhan, sudah membuatku merasa bahwa asaku terbalas.

Pernah, seorang sahabat menanyakan tentang “kebodohanku”, (menyimpan perasaan cinta menurutnya merupakan sebuah kebodohan, red.), “Mengapa tidak mengejar dan menggapaimu menjadi milikku?”, ujarnya. Aku menjawab:
“Cinta…selalu ada di sana
dia datang dan pergi dengan tak tersentuh
bila dengan mencintainya,kebahagiaan telah terkecap
haruskah ia menjadi milikku?”

Bagiku, cinta yang tak terbalas, tetap indah. Skala warna warni yang diciptakan oleh perasaan ini, tetap membuatku ingin berdiri dalam suatu penantian panjang. Penantian dengan satu keyakinan, bahwa suatu saat kau akan menjadi milikku. Namun, penantianku bukanlah yang tak berujung. Suatu saat, asa ini pun akan lelah. Dan memutuskan untuk berpindah dari interval hampa yang bernama penantian. Aku berpikir, tiga tahun cukup untuk sampai pada sebuah keputusan untuk menghentikan semua perasaan ini. Tiba saatnya untuk keluar dari bangunan imajiner tentang cinta dan asa untuk memilikimu, dan melihat realita, bahwa selama tiga tahun itu, kau tidak sedikit pun berpaling ke arahku. Cukup untuk menyadarkanku, bahwa cinta yang kunanti, tak akan pernah menghampiriku.

Timbul sebuah pertanyaan lain, apakah dengan memutuskan untuk berhenti, berarti aku… putus asa? Tidak!. Matahari adalah bola yang memancar putih seputihnya, untuk ditanggapi dengan jantung yang berdegup kencang dan darah yang beredar deras sekujur tubuh. Aku tidak putus asa. Aku hanya berpikir semua ini telah cukup untuk menguji kompromiku tentang “sebuah keikhlasan”.

Dan aku ingin kompromi ini diakhiri dengan sebuah testimoni. Bahwa, “aku mencintaimu, pada saat yang bersamaan dengan usahamu merengkuh sahabat karibku untuk jadi kekasihmu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku”.

Surat ini kututup dengan L’histoire se répètér, segalanya kembali seperti semula. Hatiku, perasaanku, asaku, posisimu di hatiku, dan posisiku di dalam kehidupanmu. Saat ini, hatiku adalah hati yang hampa dari perasaan-perasaan cinta terhadapmu. Perasaanku adalah perasaan yang terbebas dari keinginan untuk menjadikan dirimu “sesuatu yang indah” dalam hidupku. Asaku adalah asa yang tak lagi berharap untuk memilikimu. Posisimu di hatiku adalah sebagai kekasih sahabat karibku. Menyakitkan. Namun aku yakin, seiring dengan perjalanan waktu, semuanya akan baik-baik saja.

Kuyakin, pengakuan ini tidak membuatmu membenciku sebagai sahabat, ataupun merusak hubungan persahabatan kita. Tidak pula membuatmu menganggapku sebagai sosok yang munafik, menyimpan perasaan cinta pada saat yang sama dengan memainkan peran sebagai penghubung antara dirimu dan sahabatku. Niatku menyatukan kalian adalah tulus. Karena kutahu, cinta itu ada di antara kalian. Tidak ada dalam kamusku, menghancurkan persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun, hanya untuk sebuah perasaan bernama cinta. Persahabatan…adalah segalanya. Dan dia, sahabat karibku, begitu juga dengan dirimu, adalah segalanya bagiku.

Confederation Helvetica, Desember 2000
Best regards,

Mirisa Hasfaria

[Special dedicated to; Iren at Pencinta Alam SMUN 3 Banda Aceh dan Ronald, eks III IPA 6 SMUN 3 Banda Aceh Tahun Ajaran 2000/2001]