I

pada permulaan waktu

aku telah mengenalmu

namamu tergurat pada partikel es, pada debu, pada iklim yang tak menentu 

aku adalah es yang membekukan batu-batu

aku adalah debu yang menimpa tanah-tanah, gunung-gunung, berpindah-pindah mencarimu

aku adalah iklim yang memberimu hangat yang sesat dan dingin yang menggoda 

aku mencair, meresap, dan mengendap di seluruh kisahmu 

aku tak pernah mati untuk mencintaimu

hanya berganti rupa agar menyatu denganmu, menyurup ke dalam ragamu

aku adalah udara yang kau hirup dan air yang membasuhmu

aku menyelimutimu dari belaian badai, jahatnya malam 

pada permulaan waktu

aku telah mencintaimu

seperti pijar yang setia mengawani terang

seperti lembap yang selalu mengawali rinai gerimis 

II

selarik sajak tertulis pada granit pejal muntahan gunung

menyebut namamu berkali-kali

aku terpukau desah waktu saat itu

terhanyut, akhirnya terdampar di sebuah tanah asing 

kilatan-kilatan cahaya kebiru-biruan kulihat di utara, di sekitar waluku

lalu jingga, lalu aku silau

aku berdiri di atas loteng, sementara air bah telah mengepungku

dan nuh tak juga datang 

kuinginkan dirimu pada zaman yang tak setia

menjerembaku dari tubir surgamu 

III

sebilah parang masih kugenggam, erat

udara yang kesepian mengaratinya

aku baru saja kembali dari perang yang menjemukan, sia-sia

rautmu yang terlintas ketika sebuah anak panah hinggap di bahuku

rautmu menghentikan waktu, seperti sebuah batu besar yang menghentikan  roda pedati

memusnahkan nyeri yang kelaparan

engkau adalah satu-satunya alasanku kembali dari perang yang menjemukan, sia-sia 

IV

mencintaimu ibarat merasakan air yang mengalir pada parit kerongkonganku setelah kemarau yang kesekian

menyisir bebatu, menghanyutkan rerumput kering

membasahi tanah yang lekang dan memejamkan dahaga 

mencintaimu seperti mendengarkan angin yang mendesah, membisiki dedaun 

lalu memberati pelupuk

memecahkan bongkahan gelisah yang mengendap di sudut waktu 

mencintaimu bagaikan melekapkan lidahku pada tepi swargaloka

sebuah rasa yang tak pernah kukenyam menari-nari di ujungnya

mengasyikan sekaligus membekukan kata-kata 

V

sepotong mentari tengah menjerang siang

aku berteduh di bawah wajahmu yang lindap

lamat-lamat angin mendendangkan nada yang asing

lalu kita berdansa mengikuti irama

lalu saling memagut

dan enggan memecahnya 

kau adalah puncak dari buncahku

kau menyerap cahaya bulan yang memancar di atap rumah

malam ini, kau pun menghidangkan merkurius di kedua matamu 

VI

aku mencintaimu lagi setelah aku terjerembab dari tubir kawah dan kau memanduku pulang dari sesatnya padang belerang

aku mencintaimu lagi setelah aku melihatmu mematung dikawani bebayang ilalang setinggi  dudukmu pada ujung penantianmu

aku mencintaimu lagi setelah aku menyadari bahwa wangimu adalah satu-satunya bau yang dapat aku cium

aku mencintaimu lagi  setelah aku tahu bahwa darahmu telah menyusup ke nadiku, mengalir ke sekujur tubuh dan pikiranku 

aku mencintaimu lagi, dan seterusnya, setelah aku tahu kau mencintaiku