Beberapa waktu lalu, teman–teman dari Solidaritas Bersama Perempuan Yogya (SBPY), Rumpun Tjut Nja’ Dhien (RTND), KPS, PUSHAM UII, Rifka Annisa Women Crisis Center, dan KPI mengadakan acara Doa Bersama Untuk Aceh, pada tanggal 23 Mei 2003, di Alun – Alun Selatan, tepatnya  H+4 pasca Pemerintah RI melalui Kementrian Kooordinator Politik dan Keamanan mengumumkan pemberlakuan Darurat Militer untuk Aceh…. 

Rangkaian acara doa yang dilarung untuk menggemakan suara – suara perdamaian dan kemanusiaan untuk rakyat Aceh, khususnya perempuan dan anak, terdiri dari testimoni empat teman Aceh korban Daerah Operasi Militer, diselingi dengan menyanyikan lagu Aneuk Yatim (Syair oleh Medya Hus, Lagu NN), Syair Pertobatan Abunawas, Kulihat Ibu Pertiwi, dan Salimna Salam, serta ditutup dengan doa bersama. 

Saat itu, saya diminta untuk menyanyikan lagu Aneuk Yatim oleh Ketua Taman Pelajar Aceh Periode 2002/2003, yaitu Saudara M. Arif Syahrijal. Begini lirik lagu tersebut (dalam salinan Bahasa Indonesia, red): 

Anak Yatim 

Dengarkan saya bertutur tentang sebuah kisah, Sebuah kisah baru di tanah Aceh, Dalam kerusuhan yang terjadi di Aceh, di Timur dan di Barat, Di sebuah tempat, begini tuturannya 

Ada seorang anak yang selalu menangis, Dalam setiap waktu berdua dengan ibunya, Dia bertanya pada ibu, “Ayah berada dimana sekarang?”, Saya sangat rindu ingin melihat parasnya 

Jikalau masih hidup, pasti mempunyai alamat, Akan saya jumpai ketika kelak dewasa, Kalau telah meninggal, tahu dimana pusaranya, Akan saya kirimkan doa untuknya 

Hidup ibunda ketika ayah tiada, Saya mencari rizki untuk menghidupinya, Nasib kita berada di tangan Allah, Walaupun susah, wajib bersabar 

Bunda menjawab, “Hai anakku, Jika Allah berkehendak, kita wajib bersabar, Jangan berputus asa menghadapi segala cobaan, Sabar dan tabah, pasti akhirnya akan bahagia”. 

Berdoa pada Allah, agar semua musibah jangan lagi menimpa kita, Semoga Aceh ‘kan aman, tiada lagi darah yang tertumpah, Serambi Mekkah terkuat agama 

Tidak mengherankan, mengapa lagu-lagu dengan lirik serupa banyak bermunculan di Aceh, terutama pasca pencabutan status DOM. Karena operasi-operasi militer yang terus digelar pasca DOM, dengan bermacam sandi, menghasilkan sederet panjang statisitik kehilangan anggota keluarga dan harta benda. Adapun periodesasi operasi militer di Aceh:
Daerah Operasi Militer (DOM), 1989 – Agustus 1998
– Pasca DOM sampai dengan pra Operasi Wibawa, Agustus 1998 – Desember 1998
– Operasi Wibawa, Januari 1999 – Mei 1999
– Operasi Sadar Rencong I, Mei 1999 – Januari 2000
– Operasi Sadar Rencong II, Februari 2000 – Mei 2000
– Operasi Cinta Meunasah, Juni 2000 – 18 Februari 2001
– Jeda Kemanusiaan I, 2 Juni 2000 – 2 September 2000
– Jeda Kemanusiaan II, 15 September 2000 – 15 Januari 2001
– Moratorium, 15 Januari 2001 – 15 Februari 2001
– Inpres IV –  VII, 11 April 2002 – 30 November 2002 

Dari panjangnya periode di atas, kita semua dapat membayangkan, berapa jumlah anak yang tiba-tiba menjadi yatim, kehilangan ayah dan bertanya-tanya tentang keadaan ayah tercinta. Jika masih hidup, kenapa tidak pernah pulang ke rumah, kalau sudah berpulang, dimana makamnya, karena saya hendak berziarah…. 

Tak disadari, setahun kemudian, kondisi serupa terjadi pada saya, kehilangan ayah dan tiga anggota keluarga yang lain. Hanya dengan cara yang berbeda. Jika ribuan mereka adalah warga sipil tak berdosa yang menjadi korban dari pertikaian politik diametral. Sedangkan saya dan ribuan anak Aceh yang lain mengalami ini sebagai bentuk dari sunnatullah. Dan juga bertanya-tanya, jika masih hidup, mengapa mereka tidak menghubungi, dan jika sudah berpulang ke pangkuan Allah, dimana maqamnya. Akan saya kunjungi bersama mama dan melantunkan ribuan doa…

Subhanallah, sudah menjadi KEHENDAK-NYA, tanggung jawab hidup beralih lebih cepat. Di usia saya yang baru beranjak 22 tahun, ada banyak tanggung jawab baru yang harus saya pikul. Membiayai kebutuhan ekonomi keluarga, membahagiakan mama, menunaikan haji untuk kakak (Miryanti Sari) dan adik (Mirvan Syah Putra) yang sempat mengutarakan niat mereka untuk menunaikan rukun Islam kelima ini, sesaat setelah mereka baligh, mewujudkan cita-cita papa untuk mendirikan pesantren, dan banyak hal lain…. 

Teman, hidup ngak hanya tentang mengumpulkan nilai, tentang seberapa banyak teman yang kita miliki, perguruan tinggi mana yang menerima kita, status sosial yang kita miliki di dalam masyarakat, barang bermerk apa yang kita gunakan, dan lainnya. Namun, hidup adalah tentang siapa yang kita cintai dan sakiti, apakah lewat perkataan maupun perbuatan, tentang menghindari rasa cemburu terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain, mengatasi rasa tak peduli terhadap penderitaan yang dialami orang lain, tentang membina kepercayaan akan sebuah kehidupan yang lebih baik dan lebih adil bagi umat manusia. Hidup adalah tentang menghargai orang apa adanya, bukan karena apa yang dimilikinya. Hidup adalah tentang penghayatan, bahwa rancangan-rancangan Tuhan untuk kita, kadangkala tidak sama dengan rancangan-rancangan kita sendiri, dan bagaimana kita mengambil hikmah dari hal ini. Hidup adalah tentang seberapa jauh kita menularkan kebahagiaan kepada orang lain di sekeliling kita. Hidup adalah tentang Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan umatnya untuk menghadapi cobaan tersebut. Lebih jauh, hidup adalah tentang memilih untuk menggunakan hidup kita untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa tergantikan…  

Perjalanan hidup Icha sekarang, tentu tidak mudah untuk siapa pun yang juga ada di posisi Icha. Tapi satu keyakinan yang tumbuh di hati Icha, everything will be fine! It’s not the end of the world, cause it must be something better at last….Terima kasih yang tak terhingga untuk doa yang kalian untai, dukungan moral dan materil yang tak terhingga, dan cara-cara istimewa yang telah kalian tunjukkan untuk menyentuh hidup Icha….All of you are the best I’ve ever had!!!! 

Teman, di bagian akhir renungan ini, Icha ingin mengutip sebuah SMS simpati dari seorang teman, yang Icha dapatkan tanggal 2 Januari lalu. “Icha, mudah-mudahan segala kebaikan, cinta dan rasa sayang kita pada orang yang kita cintai, berbuah kelapangan hati kita. Dan perginya orang-orang yang kita cintai adalah untuk mendapatkan tempat dan cinta yang jauh lebih baik, lebih kekal, pada kebahagiaan yang sempurna. Amiin…” 

Di akhir tulisan ini, Icha ingin mengajak kita semua untuk tunduk sejenak, menghadirkan Tuhan dalam doa pendek kita, yang kita larung untuk hamba-hamba Tuhan yang syahid dalam musibah 26 Desember 2004…. 

Salam hangat, 

Mirisa Hasfaria